Tiga Snack,Empat Aqua,dan Satu Liburan Kecil

Tiga Snack,Empat Aqua,dan Satu Liburan Kecil

(Catatan: Seorang Petugas yang Malas Mencatat)

VakansiInfo – “Gak semua yang liburan itu senang. Kadang, ada yang cuma pengen ikut bahagia… walau harus nungguin di balik gate.”

Kenapa ya hari ini hati gue rasanya sedih banget?

Mungkin karena ini hari libur nasional, dan semua orang yang datang ke stasiun tampak sibuk pengen ketemu keluarga tercinta—ada yang mau ketemu ibu, ayah, kakek, nenek…

Ada juga yang liburan bareng pacar, teman, atau… teman pacarnya. Hmmm.

Pagi itu, sebelum rasa sedih ini benar-benar menghancurkan hati gue yang setipis bersin kucing. Gue nyapa Ka El—perempuan manis yang jadi announcer di Stasiun Klender Baru.

“Pagi, Mbak…”

“Pagi, Mas Hadi. Kok mukanya sedih gitu sih?”

“Iya nih, Ka El… lagi bete aja di rumah.”

Gue naro tas, lanjut duduk sambil ngeliatin dia kerja.

“Semangat dong, Mas Hadi.”

“Siap, Ka El!” Gue hormat sedia, berlaga kuat. Padahal mah… hatinya ciut banget.

Hari libur tuh biasanya hari paling melelahkan buat petugas Passenger Service kayak gue. Belum kelar mengatur napas, terdengar suara familiar:

“Assalamualaikum… Dateng juga nih garpu semen.”

Itu Jamal—partner kerja pertama gue di stasiun.

“Lah, lu yang dinas? Bukannya hari ini gue sama si Probo?”

“Iya, dia WA ngajak tukeran. Katanya ada perlu pagi ini.”

“Hahaha, ditipu lu. Mau jalan dia sama ceweknya!”

“Bodo amat,” kata gue sambil lempar napas panjang.

“Lu jaga selatan ya, Mal?”

“Lah, tumben. Biasanya males jaga di Utara?”

“Iya, tapi ini hari libur, Mal… biasanya lebih rame.”

“Oh iya juga sih… yaudah, gue jaga Selatan.”

Hari itu awalnya berjalan biasa aja. Gue masih sempat mikir, “Yah, palingan gitu-gitu doang lah.” Tapi ternyata enggak.

Pas masuk waktu pergantian dinas shift dua, kejadian kecil—yang rasanya jauh lebih besar dari sekadar kerjaan—datang nyelonong tanpa aba-aba.

Setelah makan siang, terdengar suara gate yang familiar tapi bikin alis gue naik sedikit.

“Teet… teet…”

Gue nengok. Dua anak kecil lagi mainin gate. Belum jelas mereka mau masuk atau cuma sekadar penasaran.

Gue pasang tampang tegas ala petugas berwibawa. Padahal mah… dalem hati lagi ngelawan rasa gatel karena kremian. Hahaha.

Baca Juga  Gembira Parenting Luncurkan TUNAS Community Hub, Perkuat Pendampingan Anak di Era Digital
Dari arah loket, gue liat seorang ibu—nggak terlalu tua—jalan ke arah gate sambil nggendong anak yang… yah, kalau nebak-nebak sih, umur segitu udah nggak masuk kategori bayi. Mungkin sekitar lima tahunan.

Di depan dia, dua anak lainnya—yang tadi mainin gate—udah lebih dulu heboh teriak-teriak kegirangan.

“Asikkk! Asik! Naik kereta! Kita ke Monas ya, Bang!”

Suara anak paling kecil pecah suasana.

Ibunya langsung nimpalin, “Ssstt… jangan berisik!”

Suara pelan, tapi jelas kelihatan dia pengen anak-anak tertib biar gak bikin heboh.

Gate pun bunyi dua kali lagi.

“Teet!” Satu anak masuk.

“Teet!” Yang satu lagi nyusul.

Dan tiba-tiba…

“Lah terus saya gimana, Pak, masuknya?”

Si ibu panik. Dua anaknya udah di dalam area stasiun, sementara dia masih berdiri di sisi luar. Anak yang digendong nempel di tubuhnya. Tangannya gemetaran, matanya bingung, langkahnya tertahan.

“Ke sini dulu ya, Abang-abang…”

Gue jalan ke arah dua bocah itu dan merangkul mereka pelan, biar minggir ke sisi yang lebih aman.

“Tunggu di sini dulu ya, jangan lari,”

Mereka patuh, nangkring di tempat yang gue tunjuk.

Gue balik ke arah si ibu.

“Selamat sore, Bu. Kalau boleh tahu, mau ke mana?”

“Oh… iya, Pak…” Dia keliatan gugup, nadanya naik-turun.

“Tenang aja, Bu. Saya gak gigit kok,” gue lempar senyum santai.

Muka dia sedikit lebih tenang.

“Iya, Pak. Ini saya mau ajak anak-anak jalan naik kereta. Mereka pengen ke Monas katanya,” sambil nunjuk ke anak yang digendong. Si kecil diam, tapi matanya nyorot antusias.

“Oh gitu. Liburan ya? Seru dong!”

Gue colek pelan si bocah sambil senyum.

Lalu gue tanya, “Mohon maaf, Bu, tiketnya beli untuk berapa orang ya?”

“Ini, Pak. Saya beli dua tiket.” Dia sodorin struk pembelian. Gue cek. Bener. Dua tiket.

“Terima kasih, Bu. Tapi mohon maaf… ketiga anaknya ini sudah wajib punya tiket sendiri ya.” Gue tunjuk papan pengumuman di depan gate.

Terjadi perdebatan kecil. Nggak rame. Tapi… terasa berat.

Sampai akhirnya…

Salah satu anak yang udah di dalam bilang,

“Bu, kita jadi kan liat Monas?”

Seketika dada gue kayak ditonjok.

Baca Juga  Seminar Merajut Nusantara - BAKTI Kemkominfo RI “Literasi Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat”

Setelah gue tanya-tanya pelan, ternyata si ibu cuma punya uang lima puluh ribu rupiah. Sementara harga tiket commuter St. Klender Baru – Jakarta Kota sekitar 13 ribu sekali jalan. PP jadi 16 ribu.

Dikali dua orang tambahan: 32 ribu.

Gue bantu hitung pelan, walau petugasnya bloon soal hitung-hitungan. Hahaha.

Tapi… yang bikin hati gue benar-benar didobrak bukan cuma angka.

Anak bungsu, yang digendong, bawa plastik transparan isi tiga snack kecil. Anak paling besar bawa plastik isi empat gelas air mineral.

Mereka berangkat cuma dengan itu. Cuma buat lihat Monas.

Tanpa pikir panjang, gue ambil uang 50 ribu dari dompet.

“Silakan Bu, ke loket lagi. Beli dua tiket tambahan PP ya.”

“Terima kasih banyak, Pak…”

Gue lanjut bilang,

“Nanti kalau kartu tiketnya masih ada saldonya, Ibu tukar lagi aja. Bisa buat jajan anak-anak nanti.”

Si ibu sempat nyuruh anak-anak cium tangan gue. Gue langsung bilang,

“TOS aja ya! Selamat liburan! Semoga menyenangkan naik keretanya.”

Mereka tertawa, senang banget.

Tapi… hati gue? Masih berantakan.

EPILOG

Gak semua kejadian bisa dicatat di laporan harian.

Gak semua cerita bisa dicapture sama CCTV.

Tapi hari itu… gue nyaksiin langsung bagaimana tiga snack, empat aqua, dan satu niat kecil buat liburan bisa jadi harapan besar di tengah hidup yang sempit.

Gue gak hebat.

Gue cuma petugas stasiun yang males nulis laporan.

Tapi hari itu, gue mencatat sesuatu…

…di kepala gue.

…dan di hati gue sendiri.

Sepuluh Ribu, Hanamichi, dan Jiwa yang Nyangkut di Besi Perlintasan Muhammad Haadi Nur Haq (Acil) 1

Muhammad Haadi Nur Haq (Acil)

Lahir di Jakarta, 12 Desember 1990. Tumbuh di keluarga sederhana namun berkecukupan, rumahnya selalu dipenuhi canda dan tawa. Sejak kecil, Acil suka mengamati dunia dari sudutnya sendiri, mencatat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Kini, ia menulis untuk menghadirkan cerita yang hangat, penuh humor, dan mudah dinikmati pembaca—sesekali dengan sentuhan kejenakaan yang bikin senyum tipis atau setidaknya mengangguk sambil bilang, “Iya, gue ngerti nih.”

About The Author

Pilihan Redaksi

AMBS Desak KLH Hentikan Kebijakan Tebang Pilih, Ribuan Pekerja Puncak Bogor Dirumahkan

AMBS Desak KLH Hentikan Kebijakan Tebang Pilih, Ribuan Pekerja Puncak Bogor Dirumahkan

CIA Fest 2025 Hari Kedua: Rayakan Peran Guru, Lestarikan Tradisi, dan Tumbuhkan Literasi Anak

CIA Fest 2025 Hari Kedua: Rayakan Peran Guru, Lestarikan Tradisi, dan Tumbuhkan Literasi Anak