Tombol OFF yang Hilang

“Catatan Robot Gedeg tentang Tidur, Nangis, dan Satu Teguk yang Menenangkan.”

VakansiInfo – Gue nggak pernah inget momen gue mulai tidur.
Yang ada cuma ingatan sebelum itu:
badan gue lagi enak,
perut gue anget,
dan bangku kayu di bawah pantat gue
entah kenapa tiba-tiba ramah.
Padahal sebelumnya keras.
Kayak bangku yang baru sadar
kalau lagi didudukin bocah capek.
Habis itu gelap.

Bukan gelap yang serem.
Gelap yang nutup pintu pelan.
Kayak ada tangan tak terlihat
yang nekan satu tombol kecil di tengkuk gue,
lalu bilang singkat,
“Udah. Cukup.”

Tidur gue dalem.
Tidur bocah yang nggak mikir apa-apa.
Nggak mikir PR,
Nggak mikir besok,
Nggak mikir dunia.

Waktu gue balik, dunia udah jalan sendiri.
Bukan langsung rame.
Lebih ke hidup pelan-pelan.
Ada suara orang ngobrol,
tapi bukan ngobrol sama gue.

Ada ketawa kecil yang rasanya jauh.
Ada langkah kaki mondar-mandir
tanpa tujuan jelas.

Semuanya kedengeran kayak radio tua
yang volumenya dikecilin.
Yang kalau dengerin lama-lama,
malah bikin ngantuk lagi.

Badan gue kerasa diangkat.
Bukan diangkat kaget.
Lebih ke dipindahin.

Gue masih merem.
Nggak pengin buka mata.
Pengalaman ngajarin,
buka mata pas badan lagi enak
biasanya berujung ke keputusan
yang nggak pernah gue setujui.

Di sela-sela setengah tidur itu,
gue masih bisa nebak:
Ayah lagi ngobrol.
Emak juga.
Ka Uci pasti udah nemu mainan.
Dunia orang gede lagi rapi.
Kayak acara TV sore
yang kelihatannya santai,
padahal ribetnya di belakang layar.
Dan gue masih aman.

Sampai satu suara nyelip.
“Zul, abis ini ke gedung sebelah yuk.
Lumayan, olahraga dikit.”
Nada Om Nico santai.
Nada orang yang lupa sebentar
kalau “olahraga dikit”
buat bocah itu artinya ribut.

Baca Juga  Disekolahin Demi Komisi: Misi Rahasia Bang Uche

Emak langsung nyaut, refleks,
“Balik kamar aja lah.
Anak lagi tidur nyenyak gitu.”
Ayah nggak buru-buru jawab.

Gue tau,
karena ada jeda.
Jeda itu pendek,
tapi terasa.
Kayak loading TV tabung
waktu ganti channel.

“Sebentar aja, Mah,” katanya akhirnya.
“Sekalian jalan sore.”
Kalimatnya pendek.
Nggak ada janji.
Nggak ada pembelaan.

Emak diem.
Ada suara napas ditahan.
Terus dilepas.
“Oke,” katanya pelan.
Bukan oke menang.
Lebih ke oke capek.

Gue digendong.
Dan anehnya,
gue nggak nangis.
Badan gue masih percaya.
Sampai pintu kebuka.
Dan dunia berubah suara.
Gedung sebelah itu hidup
dengan cara yang nggak cocok
buat bangun tidur.

Ada bunyi bola dipantulin,
Ada kursi diseret asal,
Ada tawa kebesaran,
Ada nama Ayah dipanggil
dari berbagai arah.

“Eh Pak Zul!”
“Lengkap nih pasukannya!”
Di situ mata gue kebuka.
Dan kepala gue langsung penuh.
Kuping gue panas.
Kayak baru dipindahin
dari mode senyap
ke acara kuis sore
yang host-nya teriak semua.

Ini bukan tempat bangun.
Ini tempat orang gede lupa volume.
Gue uring-uringan.
Bukan nangis minta apa-apa.
Bukan juga drama.
Lebih ke badan gue nolak semuanya.

Nolak versi bocah:
gue nggak ngerti apa yang salah,
tapi pokoknya
ini SALAH.

Emak nyoba nenangin.
Tangannya ada.
Suaranya ada.
Tapi dunia keburu lebih kenceng.
Kata-katanya mental,
jatuh sebelum nyampe ke kepala gue.

Ayah datang.
Nggak marah,
Nggak nanya,
Nggak ngasih ceramah.

“Yuk.”
Satu kata.
Pendek.
Beratnya pas.
Kayak tombol RESET.
Atau remot TV
yang akhirnya nemu tombol mute
setelah pencet sembarang.

Baca Juga  Landing Perdana Robot Gedeg di Kerajaan Salabintana - (Part 4)

Di luar ada taman kecil.
Rumputnya nggak terlalu hijau.
Tanahnya nggak terlalu rata.
Tapi cukup
buat bikin kepala gue
turun volumenya.

Jungkat-jungkit.
Gue duduk.
Naik.
Turun.
Masih ada sisa ribut di dada.
Sampai posisi diganti.

Dan mendadak,
kaki gue nggak nyentuh tanah.
Di kepala gue cuma sempat mikir:
“Oh… jadi ini rasanya
jadi barang titipan.”

Aneh tapi efektif.
Nangis berhenti.
Karena sekarang
gue harus fokus.
Terus soda muncul.
Kaleng dingin.
Bunyi cekrek.

Di umur segitu,
konsep keadilan itu sederhana.
Yang pegang kaleng = pemenang.
“Dikit aja,” kata Ka Uci.

Gue minum.
Dingin.
Manis.
Dunia belum beres.
Tapi cukup.
Dan hari itu,
gue nggak belajar jadi anak baik.

Gue cuma jadi anak kecil.
Tidur.
Bangun.
Nangis.
Main.
Minum soda.

Dan dunia—untuk sekali itu—mau nurut sedikit.

Sepuluh Ribu, Hanamichi, dan Jiwa yang Nyangkut di Besi Perlintasan Muhammad Haadi Nur Haq (Acil) 1

Muhammad Haadi Nur Haq (Acil)

Lahir di Jakarta, 12 Desember 1990. Besar di keluarga sederhana tapi selalu rame sama canda, cerita, dan suara tawa yang kadang kedengeran sampai ke rumah tetangga. Dari kecil, Acil punya kebiasaan aneh—suka memperhatiin hal-hal kecil yang sering dilewatin orang lain. Entah itu suara sandal jepit di pagi hari, dialog random orang di warung, atau momen lucu yang kejadian tanpa sengaja.

Sekarang, kebiasaan kecil itu jadi bahan tulisan. Acil nulis dengan gaya yang ringan, hangat, dan kadang bikin senyum tipis karena “waduh… ini gue banget.” Sesekali dia selipin kejenakaan biar ceritanya gak terlalu serius—pokoknya tulisan yang gampang dinikmati sambil rebahan atau lagi nunggu kereta lewat.

About The Author

Author

vakansiinfooffcial@gmail.com

Related Posts