“Catatan Robot Gedeg tentang Panggung Terlalu Tinggi, Tepuk Tangan, dan Hadiah yang Tidak Pernah Benar-Benar Punya Gue.”
VakansiInfo – Bukan karena nggak bangun.
Bangunnya cuma setengah.
Badan gue udah ikut ritme hotel—
AC dingin, lantai licin, suara orang dewasa yang selalu keliatan sibuk.
Tapi kepala gue masih nyangkut di semalam:
donat mint, sop kambing,
dan tombol OFF yang kemarin ditekan terlalu dalam.
Hari itu acara lanjut.
Acara orang gede.
Jam sembilan atau sepuluh—jam di mana orang dewasa udah siap ribut,
sementara bocah kayak gue sebenernya masih pengin aman.
Masih pengin duduk.
Masih pengin dunia volumenya kecil.
Ini acara perusahaan tempat Ayah kerja.
Tempat si insinyur bodoh itu biasanya keliatan penting,
pakai kemeja rapi,
ngomong pake istilah yang gue nggak ngerti,
dan dipanggil namanya dari berbagai arah.
Ada door prize,
Ada kuis,
Ada tepuk tangan.
Tepuk tangan yang bunyinya pas.
Tepuk tangan orang dewasa yang udah tau kapan harus bunyi,
walaupun hatinya entah lagi di mana.
Katanya ada acara buat anak-anak juga.
Dan di situlah gue ketemu badut.
Gue nggak mikir itu lucu.
Yang kepikiran malah satu hal sederhana:
“Kok mukanya senyum terus?”
Senyum yang kebanyakan.
Senyum yang kayak nggak pernah tidur.
Kayak orang yang lupa cara capek.
Kakak gue naik panggung.
Nari.
Gerakannya hafal.
Musiknya gue nggak yakin.
Entah lagu Kamu Makanya
atau lagu lain yang nadanya mirip.
Pokoknya lagu yang bikin orang dewasa tepuk tangan
walaupun nggak bareng-bareng.
Gue di bawah panggung.
Nempel.
Hari itu gue rapi.
Baju rapi.
Celana rapi.
Sandal juga rapi.
Masalahnya cuma satu:
nggak ada yang pas di badan gue.
Kemeja kepanjangan.
Celana longgar.
Sandal kebesaran dan licin.
Kelihatannya siap tampil,
tapi badan gue nggak pernah diajak sepakat.
Dan pas gue lagi berharap bisa nggak kelihatan,
badut itu manggil.
Gue nggak inget dia bilang apa.
Nama gue kepanggil atau nggak,
gue juga nggak yakin.
Yang jelas badan gue panik duluan.
Gue dibawa ke atas panggung.
Karpetnya tebal.
Panggungnya tinggi.
Kaki gue pendek.
Sandal gue nyeret.
Baru dua langkah,
gue oleng.
Bukan jatuh.
Cuma goyang.
Kayak badan kecil yang belum setuju
kalau hidupnya mendadak jadi tontonan.
Badut nyodorin mic.
Gue pegang.
Refleks.
Mic itu langsung gue kokop.
Dan semua ketawa.
Ketawa orang dewasa.
Ketawa yang lega.
Ketawa yang pas momennya.
Gue bengong.
Nggak nangis.
Nggak ngerti kenapa lucu.
Terus ada permainan.
Namanya gue lupa.
Aturannya juga.
Yang gue inget cuma satu:
ada benda dilempar.
Kalau kena, gugur.
Anak-anak lain berdiri tegak.
Siap.
Posturnya kayak peserta lomba beneran.
Gue?
Setengah jongkok.
Kadang jongkok sekalian.
Bukan karena strategi.
Emang segitu badan gue.
Benda itu lewat di atas kepala gue.
Lewat lagi,
Lewat lagi.
Anak-anak yang lebih gede satu-satu kena.
Gugur.
Sampai akhirnya
gue yang masih berdiri.
Robot Gedeg umur empat atau lima tahun,
menang.
Bukan karena jago.
Bukan karena pinter.
Cuma karena kecil.
Dan dunia lagi lupa ngitung itu.
Setelah itu ingatan gue mulai kabur lagi.
Mandi.
Makan.
Acara orang dewasa.
Nyanyi.
Ketawa.
Berisik.
Gue selalu bisa tidur.
Di kondisi apa pun.
Hadiah itu baru gue buka
di kamar Hotel Salabintana,
sebelum kita pulang.
Gue duduk di lantai.
Karpetnya bau hotel.
Sabun.
Lembap.
Bau singgah sebentar.
Isinya pistol-pistolan.
Berat.
Dingin.
Pegangannya gede.
Gue angkat.
Tangan gue goyang dikit.
Bukan takut.
Berat aja.
Gue nggak ngerti itu apa.
Gue cuma ngerasa satu hal:
“Wah… ini berat.”
Abis itu ingatan gue kabur lagi.
Gue nggak inget jelas
siapa yang megang setelah itu.
Bisa Ayah.
Bisa gue sempet maenin sebentar
pas udah sampai rumah.
Yang pasti,
gue pernah ngerasain beratnya lagi.
Sebentar.
Terus…
nggak tau ke mana.
Kayak banyak hal lain di hidup gue:
dateng,
sempet dipegang,
terus ilang tanpa pamit.
Dan anehnya,
gue nggak nyariin.
Mungkin karena dari awal,
nggak ada yang pernah nanya
apa gue bener-bener siap megangnya.

Muhammad Haadi Nur Haq (Acil)
Lahir di Jakarta, 12 Desember 1990. Besar di keluarga sederhana tapi selalu rame sama canda, cerita, dan suara tawa yang kadang kedengeran sampai ke rumah tetangga. Dari kecil, Acil punya kebiasaan aneh—suka memperhatiin hal-hal kecil yang sering dilewatin orang lain. Entah itu suara sandal jepit di pagi hari, dialog random orang di warung, atau momen lucu yang kejadian tanpa sengaja.
Sekarang, kebiasaan kecil itu jadi bahan tulisan. Acil nulis dengan gaya yang ringan, hangat, dan kadang bikin senyum tipis karena “waduh… ini gue banget.” Sesekali dia selipin kejenakaan biar ceritanya gak terlalu serius—pokoknya tulisan yang gampang dinikmati sambil rebahan atau lagi nunggu kereta lewat.



