Satu Abad Ali Sadikin, Warisan Kebudayaan yang Terus Menyalakan Denyut Jakarta
4 mins read

Satu Abad Ali Sadikin, Warisan Kebudayaan yang Terus Menyalakan Denyut Jakarta

VakansiInfo, Jakarta – Ada banyak cara membangun sebuah kota. Sebagian memilih memperbanyak jalan raya, membangun gedung pencakar langit, atau mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin. Namun bagi Ali Sadikin, pembangunan kota tidak akan pernah benar-benar utuh tanpa kebudayaan.

Tepat pada peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin, warisan pemikiran mantan Gubernur DKI Jakarta itu kembali mengemuka. Sosok yang akrab disapa Bang Ali tersebut dikenang bukan hanya sebagai pemimpin yang membangun fisik ibu kota, tetapi juga sebagai tokoh yang meletakkan fondasi ekosistem seni dan budaya yang hingga kini masih menjadi denyut kehidupan Jakarta.

Pandangan tersebut kembali diingatkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang pernah menjadi staf pada masa pemerintahan Bang Ali. Menurutnya, pemikiran Ali Sadikin tetap relevan di tengah perubahan zaman, termasuk ketika dunia kebudayaan kini memasuki era digital.

Kebudayaan Bukan Pelengkap Pembangunan

Bagi Ali Sadikin, kebudayaan bukan sekadar agenda seremonial atau pelengkap pembangunan. Seni merupakan bagian dari identitas kota yang harus hidup berdampingan dengan kemajuan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.

Pemikiran itu berawal dari kegelisahannya pada awal 1968 ketika mengetahui kawasan Senen yang dahulu menjadi ruang berkumpul para seniman perlahan kehilangan fungsinya. Para pelaku seni bukan kehilangan kreativitas, tetapi kehilangan tempat untuk berkarya.

Dari situ lahirlah sebuah keyakinan sederhana namun visioner, bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan ruang agar kreativitas masyarakat tetap tumbuh.

Bang Ali memahami bahwa sebuah kota akan kehilangan jiwanya ketika seni dan kebudayaan tidak lagi memiliki ruang hidup.

Baca Juga  Gambang Kromong Salah Satu Budaya Betawi Yang Nyaris Tergerus Zaman

Pemerintah Hadir untuk Memfasilitasi

Ali Sadikin juga meyakini bahwa pemerintah tidak seharusnya mengatur arah kesenian. Negara cukup menjadi fasilitator yang menyediakan ruang, sementara kreativitas sepenuhnya menjadi milik para seniman.

Prinsip itu diwujudkan melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta pada Juni 1968 yang diberi keleluasaan memberikan pertimbangan kepada gubernur dalam pengembangan seni dan budaya.

Langkah serupa diterapkan saat mendirikan Lembaga Kebudayaan Betawi pada 1977. Pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat, sedangkan pemerintah hanya memberikan dukungan seperlunya.

Model tersebut menjadi fondasi lahirnya ekosistem seni yang tumbuh secara alami, terbuka terhadap berbagai gagasan, sekaligus mampu menjaga identitas budaya Jakarta.

Taman Ismail Marzuki, Simbol Investasi Peradaban

Jika ada satu karya monumental yang paling menggambarkan visi Bang Ali terhadap kebudayaan, maka jawabannya adalah Taman Ismail Marzuki (TIM).

Diresmikan pada 10 November 1968, kawasan ini bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan rumah bagi tumbuhnya kreativitas lintas generasi.

Teater, musik, tari, sastra, seni rupa hingga perfilman berkembang di tempat ini. TIM juga menjadi ruang bertemunya seniman, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk berdiskusi, berkolaborasi, bahkan melahirkan gagasan-gagasan baru yang kemudian mewarnai perkembangan seni Indonesia.

Komitmen Bang Ali terhadap akses publik juga terlihat dari kebijakan harga tiket pertunjukan yang dibuat terjangkau. Pada masanya, TIM mampu menyelenggarakan sekitar 250 pertunjukan setiap tahun, sebuah pencapaian yang menunjukkan tingginya perhatian pemerintah terhadap kehidupan budaya.

Visi tersebut diperkuat melalui pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta pada 1970 dan Akademi Jakarta pada 1973 sebagai bagian dari upaya mencetak regenerasi insan seni.

Baca Juga  Belajar Tiga Filosofi Melayani Tamu Para Leluhur Borobudur di Omah Mbudur

Masih Relevan di Era Digital

Memasuki era digital, pola konsumsi seni memang berubah. Teknologi menghadirkan ruang baru bagi seniman untuk berkarya sekaligus menciptakan tantangan baru dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya.

Namun, nilai-nilai yang diwariskan Ali Sadikin tetap menjadi pijakan penting.

Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan, menilai generasi muda perlu terus menghidupkan semangat yang pernah dibangun Bang Ali.

“Bang Haji Fauzi Bowo berhasil menggelorakan semangat kebetawian generasi hari ini, tidak boleh padam,” ujarnya.

Menurut Masykur, kebebasan berekspresi, keberanian menyampaikan kritik melalui karya seni, serta keberpihakan nyata terhadap pelaku budaya harus tetap dijaga agar Jakarta tidak kehilangan identitasnya.

Warisan yang Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Peringatan satu abad Ali Sadikin sejatinya bukan sekadar mengenang perjalanan seorang pemimpin.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa investasi terbesar sebuah kota bukan hanya gedung megah maupun jalan yang membentang panjang, melainkan manusia yang mampu menjaga budaya, merawat kreativitas, dan membangun ruang dialog melalui seni.

Apa yang ditanam Bang Ali puluhan tahun lalu masih tumbuh hingga hari ini.

Kini, tantangan terbesar bukan lagi membangun fondasi itu, melainkan memastikan warisan tersebut tetap hidup, berkembang, dan mampu diteruskan kepada generasi mendatang.

Sebab, seperti yang diyakini Ali Sadikin, kota yang besar bukan hanya kota yang maju secara ekonomi, tetapi juga kota yang mampu menjaga kebudayaannya sebagai identitas dan jati diri masyarakatnya. (Eff)

About The Author