SBY Art Community Gelar Pameran “Art for Peace and a Better Future”, Satukan Seniman Lintas Generasi dan Budaya
4 mins read

SBY Art Community Gelar Pameran “Art for Peace and a Better Future”, Satukan Seniman Lintas Generasi dan Budaya

VakansiInfo, Jakarta – Seni lukis menjadi medium untuk menyuarakan perdamaian dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Pesan tersebut dihadirkan SBY Art Community (SAC) melalui pameran bertajuk “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pameran yang digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-499 DKI Jakarta tersebut berlangsung pada 18–30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki.

Pameran ini menjadi agenda kedua sejak SBY Art Community dibentuk oleh Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SAC membawa visi menjadikan komunitas seni sebagai wadah untuk menyuarakan perdamaian, inklusivitas, dan pelestarian lingkungan melalui seni, khususnya seni lukis.

Ketua Koordinator Pameran SAC 2026, Letjen (Purn) Ediwan Prabowo, mengatakan tema perdamaian dan cita-cita mengenai dunia yang lebih baik dipilih untuk merespons dinamika global sekaligus membangun solidaritas.

“Tema perdamaian dan cita-cita akan dunia yang lebih baik dipilih sebagai fokus utama untuk merespons dinamika global dan kebutuhan akan solidaritas. Kami berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi sosial, memperkuat semangat kebersamaan, dan menumbuhkan optimisme masa depan yang lebih baik,” jelas Ediwan.

Hadirkan 150 Karya dan Seniman Lintas Generasi

Sebanyak 150 karya lukisan dari 27 seniman Indonesia ditampilkan dalam pameran tersebut. Salah satu nama yang turut ambil bagian adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Menariknya, pameran ini juga mempertemukan seniman dari berbagai kelompok usia. Rentang usia peserta mencapai 10 hingga 76 tahun, sehingga menjadikan pameran sebagai ruang perjumpaan lintas generasi.

Baca Juga  Perpustakaan Jakarta Hadirkan Pengalaman Literasi Digital Imersif di TIM

Selain seniman SAC, pameran juga menghadirkan seniman cilik serta seniman tamu dari Kornfeld Galerie Berlin, Christopher Lehmpfuhl.

Wakil Ketua Pameran SAC 2026, Marsma (Purn) Akbar Linggaprana, menyebut kolaborasi lintas generasi dan budaya menjadi salah satu kekuatan utama pameran.

“Ini merupakan kolaborasi lintas generasi dengan adanya rentang usia antara 10 tahun sampai 76 tahun. Lintas budaya menjadi sebuah keunikan sendiri dari pameran ini karena adanya sister city collaboration antara Jakarta dan Berlin sekaligus menandai HUT DKI yang ke-499 tahun ini,” jelas Akbar.

Para seniman yang terlibat antara lain Agung Fitriana, Agus TBR, Akbar Linggaprana, Bambang Sugiarto, Catur Nugroho, Cia Syamsiar, Flavia Giulietta, Guntur Wibowo, I Gede Arya Sucitra, Imam Bawon, Koelo Maryam, La Ode Umar Arsuria, Masdibyo, Naufal Abshar, Ricki Roganda Sitepu, Rizky Romansyah, Susilo Bambang Yudhoyono, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tony Siswoyo, Willy Himawan, dan Zusfa Roihan.

Sementara itu, kelompok seniman cilik diwakili Jaden Anders dari Tangerang Selatan, Navya Adiba Zahra dari Malang, I Gusti Ayu Mirah Djelantik dari Bali, Darka Astatanu Hasmanto dari Yogyakarta, serta Garnetta Joy Pasalli dari Bandung.

Perdamaian Dihadirkan Lewat Kolaborasi Seni

Kurator pameran, Gie Sanjaya, mengatakan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan bahwa perdamaian bukan sesuatu yang lahir dari satu perspektif.

“Pameran ini memperlihatkan bahwa perdamaian tidak pernah hadir sebagai satu suara, melainkan sebagai himpunan pengalaman yang saling melengkapi,” papar Gie dalam catatan kuratorialnya.

Kolaborasi lintas budaya semakin terasa melalui kehadiran Christopher Lehmpfuhl dari Kornfeld Galerie Berlin. Seniman asal Jerman tersebut membawa tradisi melukis en plein air ke dalam proses berkarya di Indonesia.

Baca Juga  ARTOTEL Thamrin Jakarta Hadirkan Pameran Tunggal Mahendra Nazar Bertajuk Formidable Sequences

Selama sekitar dua pekan, Lehmpfuhl melukis bersama anggota SBY Art Community di sejumlah lokasi, mulai dari Jakarta, Cisarua, Borobudur, hingga Pacitan.

Karya-karya tersebut merekam pengalaman visual dan atmosfer setiap lokasi melalui teknik khas Lehmpfuhl yang menggunakan lapisan impasto tebal dan diaplikasikan langsung dengan tangan.

Jakarta menghadirkan dinamika kota metropolitan, Borobudur membawa resonansi spiritual sebagai warisan dunia, sedangkan Cisarua dan Pacitan menawarkan karakter lanskap pegunungan serta pesisir selatan.

Kehadiran Lehmpfuhl di Indonesia pada Juli–Agustus 2026 juga menjadi bagian dari kolaborasi artistik dan budaya dalam konteks sister city Jakarta-Berlin.

Terbuka untuk Masyarakat

Tidak hanya menyajikan karya seni, pameran ini juga menghadirkan sejumlah program publik berupa artist talk dan tur pameran yang dipandu kurator, panitia, serta gallery sitter.

Masyarakat umum dapat berpartisipasi dan menikmati pameran sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap seni dan membangun ruang dialog melalui karya.

Pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, di antaranya The Yudhoyono Institute, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta berbagai mitra seni dan budaya.

Melalui kolaborasi tersebut, SAC berharap seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi estetis, tetapi juga menjadi jembatan untuk membangun dialog, memperkuat keberagaman, dan menyuarakan perdamaian. (Eff)

About The Author