Sorong Selatan Menyapa Jakarta Lewat Papeda, Tari, dan Cerita Ekowisata
2 mins read

Sorong Selatan Menyapa Jakarta Lewat Papeda, Tari, dan Cerita Ekowisata

VakansiInfo, Jakarta – Sorong Selatan, Papua Barat Daya, hadir lebih dekat dengan masyarakat Jakarta melalui program “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua.”

Digelar pada 1–4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran, kegiatan ini merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.

Salah satu momen yang menarik perhatian pengunjung adalah demonstrasi pembuatan papeda oleh dua mama dari Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen.

Papeda yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Papua diperkenalkan kepada pengunjung Jakarta sebagai bagian dari kekayaan pangan sekaligus budaya masyarakat Kepala Burung Papua.

Program tersebut mengangkat tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, yakni Klaogin, Konda, dan Bariat, yang tengah mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.

Selain demonstrasi masak, pengunjung dapat menikmati pameran foto, pertunjukan tari, serta dialog yang membahas konservasi dan pengembangan pariwisata.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, mengatakan hutan Sorong Selatan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Wanadri Women Divers Tanam 2.500 Terumbu Karang untuk Pulihkan Ekosistem Laut Pulau Buru

“Hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Namun bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas,” ujarnya.

Sementara itu, Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, mengatakan pengenalan Sorong Selatan perlu dilakukan dengan pendekatan yang menghormati masyarakat dan lingkungan.

“Kami ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat,” katanya.

CEO Legenda Khatulistiwa Narendra Makes juga menekankan pentingnya batas dalam pengembangan wisata.

Menurutnya, jumlah wisatawan, jalur perjalanan, dan waktu kunjungan perlu dikelola agar aktivitas pariwisata tetap memberikan manfaat bagi kampung sekaligus menjaga alam.

Dialog yang digelar dalam rangkaian acara menghadirkan pemerintah, lembaga konservasi, dan perwakilan kampung. Mereka membahas masa depan keanekaragaman hayati Sorong Selatan serta pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.

Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen mengatakan hutan dan sungai merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

“Hutan dan sungai itu dapur kami, sekolah kami, tempat cerita orang tua kami tinggal,” ujarnya.

Baca Juga  Profil Inspiratif Puteri Indonesia Papua 2026: Glorya Stevany Yame Nayoan, Suarakan Edukasi HIV dan Pemberdayaan Perempuan

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 3 Oktober melalui dialog “Berbagi Tradisi dan Kearifan Merawat Hutan” serta sesi memasak pangan lokal.

Melalui program ini, Sorong Selatan diperkenalkan bukan hanya sebagai destinasi dengan lanskap alam yang menarik, tetapi sebagai ruang hidup masyarakat yang memiliki tradisi, pengetahuan lokal, pangan, dan kekayaan biodiversitas. (Eff)

About The Author