Kalbe Perkuat Ekosistem Precision Medicine dan Cell Therapy, Buka Harapan Baru Pengobatan di Indonesia
4 mins read

Kalbe Perkuat Ekosistem Precision Medicine dan Cell Therapy, Buka Harapan Baru Pengobatan di Indonesia

VakansiInfo, Jakarta – Masa depan layanan kesehatan semakin bergerak menuju pengobatan yang lebih personal. Bukan hanya berdasarkan jenis penyakit, tetapi juga karakteristik biologis dan genetik setiap pasien.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui penyelenggaraan Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di The St. Regis Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Mengangkat tema “Where Science Meets Purpose, Growth and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy”, kegiatan ini mempertemukan lebih dari 200 dokter, peneliti, akademisi, pemerintah, regulator, dan pelaku industri kesehatan.

Forum tersebut membahas berbagai perkembangan teknologi medis yang tengah berkembang pesat, khususnya precision medicine, immune cell therapy, dan gene editing.

Bagi Kalbe, kemajuan teknologi kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan inovasi. Dibutuhkan ekosistem yang siap agar teknologi tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat bagi pasien.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady, mengatakan semangat tersebut sejalan dengan warisan pemikiran Dr. Boenjamin Setiawan, pendiri Kalbe.

“Ilmu pengetahuan dan inovasi harus memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu memberikan manfaat dan harapan bagi kehidupan manusia,” ujar Irawati.

Ia menambahkan, perkembangan kedokteran menuju terapi yang semakin presisi dan personal membuat kolaborasi antara berbagai pihak menjadi semakin penting.

Ketika Teknologi Bertemu Kebutuhan Pasien

Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung – Regenic Stem Cell, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed., mengatakan pengembangan precision medicine dan cell therapy harus disiapkan secara menyeluruh.

Baca Juga  Kanker Menyerang Anak, Kalbe Ungkap Pentingnya Nutrisi bagi Pejuang Kanker Anak

Menurutnya, ekosistem tersebut mencakup penelitian, bukti klinis, infrastruktur, fasilitas produksi bersertifikasi GMP atau CPOB, regulasi, hingga kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

“Bukan hanya membahas teknologinya, tetapi juga bukti ilmiah, kesiapan infrastruktur dan fasilitas produksi, regulasi, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga tantangan implementasinya,” jelas Sandy.

Urgensi inovasi semakin terasa ketika melihat besarnya beban penyakit kanker di Indonesia.

Data Global Cancer Observatory IARC mencatat terdapat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker di Indonesia pada 2022.

Sementara itu, secara global WHO memperkirakan jumlah kasus baru kanker dapat mendekati 35 juta kasus per tahun pada 2050.

Kondisi tersebut membuat pendekatan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga terapi yang lebih personal menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan kesehatan masa depan.

Indonesia Siapkan Fondasi Genomik

Indonesia sendiri mulai memperkuat fondasi pengembangan precision medicine melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah terus mendorong kesiapan industri dalam menghadapi perkembangan bioteknologi baru yang berkaitan dengan DNA dan teknologi genomik.

Menurut Budi, pengembangan basis data genomik populasi menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan Indonesia menghadapi transformasi kedokteran.

Di sisi regulasi, Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan bahwa Indonesia juga mulai menyiapkan kerangka regulasi untuk menyambut pengobatan masa depan.

Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025, kata Taruna, menjadi bagian dari upaya reformasi proses regulasi dan percepatan perizinan bagi terapi masa depan seperti terapi sel punca, RNA, dan gen.

Baca Juga  Ciputra Hospital Tangerang Resmi Hadirkan MRI Canggih Tanpa Radiasi, Teknologi Ramah Lingkungan!

Meski demikian, aspek keamanan, kualitas, dan efikasi tetap menjadi prinsip utama.

Dari CRISPR hingga Terapi Sel Imun

DBSDLS 2026 menghadirkan sejumlah ilmuwan dan pakar medis dari Indonesia maupun mancanegara.

Prof. Toh Han Chong, Prof. Dr. dr. Aru W. Sudoyo, Adj. A/Prof. Danny Soon, dan Fatwa Adikusuma, PhD., turut membagikan perspektif mengenai perkembangan terapi masa depan.

Pembahasan mencakup immune cell therapy untuk kanker, terapi sel imun dalam era genomik, gene editing, ekosistem terapi sel imun di Asia, hingga adoptive T cell therapy untuk kanker padat.

Teknologi CRISPR juga menjadi salah satu perhatian karena membuka peluang pengembangan terapi untuk penyakit genetik, kanker, dan penyakit degeneratif.

Namun, perjalanan teknologi tersebut menuju penerapan luas tetap membutuhkan kajian keamanan, etika, regulasi, dan bukti ilmiah yang kuat.

Bagi Kalbe, DBSDLS 2026 bukan hanya menjadi ruang bertukar pengetahuan. Forum ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga semangat Dr. Boenjamin Setiawan agar ilmu pengetahuan terus diarahkan untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Melalui kolaborasi antara akademisi, klinisi, pemerintah, regulator, industri, dan fasilitas kesehatan, Kalbe berharap ekosistem precision medicine dan cell therapy di Indonesia semakin siap menghadapi masa depan pengobatan yang lebih personal dan berbasis bukti. (Eff)

About The Author