You are currently viewing Atasi Nyeri Lutut Tanpa Operasi

Vakansi Info, Jakarta – Masalah nyeri sendi yang salah satunya adalah nyeri lutut dapat di atasi tanpa serta harus melakukan tidakan operasi. Proses penyembuhan tanpa operasi ini merupakan alternatif pilihan terapi yang dapat mengembalikan kualitas hidup pasien. Klinik Flex Free merupakan klinik rehabilitasi medik khusus di bidang muskuloskeletal. Yang mengembangkan teknik penyembuhan nyeri lutut tanpa operasi. Diskusi dilaksanakan di Hotel Des Indes pada, Rabu (24/05/2023), dengan menghadirkan tiga pembicara yaitu, dr. Arif, dr. Ferius, dan dr. Reggy.

Klinik Flex Free

Perlu di ketahui Klinik Flex Free menyediakan beberapa layanan untuk mengatasi nyeri sendi, seperti: Injeksi pelumas sendi dengan bantuan USG Muskuloskeletal, terapi regeneratif seperti Prolotherapy, Platelet Rich Plasma(PRP) Musculoskeletal, dan Secretom. Tentunya, pasien wajib berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis rehabilitasi medik. Seperti yang di sediakan oleh Klinik Flex Free, untuk menentukan tindakan dan obat yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

dr. Arif Soemarjono, Sp.KFR, FACSM, Ketua Komite Medis Klinik Flex Free mengatakan. “Klinik Utama Flex Free merupakan klinik praktek Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Yang sudah berpengalaman baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk pelayanan kesehatan khusus muskuskeletal (otot, tulang dan sendi) dan saraf kejepit. Dengan visi menjadikan klinik rehabilitasi muskuloskeletal yang pertama, serta sebagai pusat rujukan rehabiltasi medik regional, nasional maupun internasional dalam bidang rehabilitasi neuromuskuloskeletal.”

Misi Klinik Frex Free

“Misi Klinik Frex Free yaitu ingin membantu penderita gangguan nyeri dan kelainan otot, tulang, sendi, tulang belakang dan saraf kejepit dapat bergerak kembali dengan bebas dan leluasa tanpa nyeri. Mengembalikan kualitas hidup yang baik tanpa harus melakukan tindakan operasi dalam proses penyembuhannya. Untuk itu kami akan terus berkembang dengan membuka klinik baru. Klinik Utama Flex Free merupakan klinik terbaru yang berlokasi di The Bellezza Shopping Arcade, lantai dasar unit SA58-60, Permata Hijau, Kebayoran lama, Jakarta Selatan.” jelasnya.

“Penanganan rehabilitasi medis bersifat holistik dan meliputi rehabilitasi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Kami terus mengembangkan layanan yang terbaik untuk masalah lutut seperti injeksi pelumas sendi dengan bantuan USG Muskuloskeletal. Dan terapi regeneratif seperti Prolotherapy, Platelet Rich Plasma (PRP) muskuloskeletal, ataupun secretom,” tambahnya.

Cedera Dapat Terjadi Kapan Dan di Mana Saja

Pada kesempatan yang sama, dr. Ferius Soewito, Sp.KFR, AIFO-K. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik, Klinik Flex Free mengatakan, “Cedera dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Pada saat kita olahraga, bekerja, saat melakukan hobi, misalnya menari, bahkan pada aktivitas sehari-hari seperti berjalan juga tetap ada risiko. Lutut merupakan bagian tubuh cukup berisiko terutama untuk kegiatan-kegiatan yang banyak melibatkan berdiri, berjalan, bertari dan melompat. Olahraga lari misalnya, atau basket, badminton, tennis. Merupakan olahraga yang sering di lakukan dan memiliki risiko yang cukup tinggi untuk terjadi cedera.

Baca Juga  Transformasi Penanganan Endometriosis Secara Komprehensif Dengan Kecerdasan Buatan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Reproduksi Di Masa Depan

Hobi yang berisiko cedera misalnya menari. Tari tradisional yang banyak melibatkan aktivitas setengah jongkok juga berisiko cedera. Banyak penari yang mengira bahwa aktivitas tersebut aman-aman saja, tapi sebenarnya berisiko tinggi untuk mengalami cedera. Selain itu, hobi bercocok tanam dengan posisi jongkok dalam waktu lama juga memiliki risiko. Tidak jarang, cedera terjadi pada aktivitas berjalan, khususnya bila permukaan tanahnya tidak rata atau pada aktivitas naik turun tangga.”

Pentingnya Berbagai Pemeriksaan

“Cedera pada lutut dapat terjadi pada jaringan pengikat (ligament), bantalan (meniscus), tulang rawan, otot dan sebagainya. Menentukan bagian yang cedera sangat penting, karena akan mengarahkan pada tatalaksana yang tepat. Anamnesis (tanya jawab dokter-pasien), pemeriksaan fisik, pemeriksaan USG serta pemeriksaan Xray, CT Scan dan MRI sangat berperan penting. USG saat ini tidak hanya di gunakan untuk pemeriksaan kehamilan saja. Namun dapat untuk memeriksa kondisi lutut. USG memiliki kelebihan yaitu tidak memerlukan ruang khusus, tidak ada radiasi, dapat dilakukan pada saat pasien ketemu dengan dokter. Sehingga kondisi yang di periksa real saat itu juga, serta dapat membantu mengarahkan dalam melakukan tindakan seperti injeksi,” kata dr. Ferius.

“Tatalaksana yang tepat bergantung pada pemeriksaan dan kondisi pasien. Bila cidera dalam fase radang akut, maka harus di kurangi peradangannya. Bila peradangan sudah tidak akut, dapat di lakukan tindakan regenerasi. Yaitu tindakan untuk mempercepat penyembuhan jaringan. Proses penyembuhan dapat di percepat dengan terapi misalnya terapi shockwave dan laser, atau dengan Perineural Injection Treatmant. Tindakan berupa pemberian gula khusus (dextrose) untuk menangani cedera maupun mengatasi nyeri. Secretom (cairan yang di ekstrak dari stem cell, Platelet Rich Plasma (faktor pertumbuhan yang di ambil dari darah) atau pun dari stem cell (sel punca),” tambahnya.

Proses Penuaan Penyebab Terjadinya Berbagai Proses Degeneratif

dr Reggy Triaterta Injo, Sp.KFR, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Kiinik Flex Free mengatakan. “Bertambahnya usia merupakan sesuatu yang tidak dapat di hindari. Semua makhluk hidup akan bertambah usia seiring berjalannya waktu. Proses penuaan menyebabkan terjadinya berbagai proses degeneratif di tubuh, termasuk sendi lutut. Penyakit degneratif pada sendi di sebut Osteoarthritis (Oa). Yang di kenal luas pada masyarakat dengan sebutan pengapuran sendi. OA merupakan suatu kondisi yang sangat sering di temukan pada usia lanjut. OA merupakan tipe arthritis yang terbanyak dengan angka kejadian kasus OA lutut sebesar 240 per 100.000 orang tiap tahun. Prevalensi osteoarthritis di Indonesia meningkat seiring dengan usia, yaitu sebesar 5℅ pada Individu berusia lebih kecil dan 40 tahun. 30% pada usia 40 – 60 tahun. Dan 65% pada usia lebih besar dari 61 tahun. Prevalensi OA lutut sebesar 15,5% pada laki-laki dan 12,7% pada perempuan. Faktor risiko OA di antaranya adalah usia, jenis kelamin, genetik, aktivitas fisik, obesitas, trauma. OA merupakan suatu penyakit yang sangat membebani kualitas hidup penderitanya, dan dapat menyebabkan disabilitas. Pada OA terjadi kerusakan pada sendi secara menyeluruh, dapat melibatkan tulang rawan sendi, bantalan sendi (meniscus), ligament dan tulang itu sendiri.”

Baca Juga  Tips Kecantikan Untuk Merawat Kulit dan Rambut

Kelebihan Pemeriksaan USG

Proses tatalaksana yang tepat merupakan suatu hal yang sangat penting. Di mulai dan tanya jawab, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (Xray, MRI, USG) dan terapi yang diberikan. USG Yutut di lakukan untuk melihat struktur-struktur di lutut yang tidak dapat terlihat pada Xray. Dan tentunya dari segi biaya lebih murah bila di bandingkan dengan MRI. Pemeriksaan USG merupakan sesuatu yang aman dan mempunyai kelebihan di banding yang lainnya. Karena pemeriksaan USG merupakan suatu pemeriksaan real time dan dapat melakukan pemeriksaan dinamis, dimana struktur yang diperiksa dapat di gerakkan untuk melihat suatu kelainan dengan lebih jelas. USG juga dapat membantu dalam melakukan terapi injeksi, agar pemberian injeksi tepat pada sasaran.

“OA tidak dapat di sembuhkan, namun keluhan OA dapat di kontrol sehingga penderita dapat beraktivitas dan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa merasakan nyeri. Tatalaksana yang di berikan akan di sesuaikan dengan kondisi pasien, tidak semua pasien dengan OA mendapat terapi yang sama. Secara garis besar, terapi yang di berikan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan peradangan dengan menggunakan berbagai modalitas fisik. Mempercepat regenerasi jaringan dengan modalitas fisik dan terapi regeneratif seperti Prolotherapy, Platelet Rich Plasma, ataupun Secretom. Tujuan dari terapi pada OA adalah untuk mengurangi nyeri dan mencegah perburukan penyakit agar pasien memiliki kualitas hidup yang baik,” tutup dr. Reggy.

(Eff)