VakansiInfo – Pernah merasa pikiranmu tak mau berhenti bekerja, bahkan saat sudah larut malam? Merenung terlalu dalam, menebak-nebak hal yang belum tentu terjadi, mengulang percakapan yang sudah berlalu… kalau kamu sering begini, bisa jadi kamu sedang overthinking.
Di tengah tekanan hidup modern—tuntutan kerja, relasi sosial, dan ekspektasi diri—overthinking jadi hal yang sering tak disadari. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa merusak kesehatan mental, membuatmu cemas berlebihan, susah tidur, bahkan sulit membuat keputusan.
Apa Itu Overthinking?
Secara sederhana, overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan dan terus-menerus. Ini bisa berupa:
- Menganalisis kesalahan di masa lalu (ruminasi)
- Terlalu khawatir soal masa depan
- Menyalahkan diri sendiri atas hal kecil
- Tak bisa berhenti membuat skenario “bagaimana jika…”
Menurut psikolog, overthinking bukan tanda kamu terlalu cerdas—tapi justru bisa jadi sinyal stres tersembunyi, perfeksionisme, atau rasa takut akan kegagalan.
Tanda-Tanda Kamu Overthinking:
- Sulit tidur karena pikiran tak kunjung tenang
- Mengulang-ulang kejadian atau dialog di kepala
- Terlalu lama mengambil keputusan karena takut salah
- Merasa lelah padahal tidak melakukan banyak hal fisik
- Menyalahkan diri sendiri secara berlebihan
Cara Sederhana Mengatasi Overthinking
- Tulis Pikiranmu di Kertas: Menulis dapat membantu “mengeluarkan” beban dari kepala dan membuat pikiran lebih jernih. Coba journaling beberapa menit sebelum tidur.
- Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan: Banyak hal dalam hidup yang berada di luar kontrol kita. Alihkan energi ke tindakan nyata, bukan ke asumsi atau kekhawatiran.
- Praktikkan Mindfulness: Teknik pernapasan, meditasi, atau sekadar berjalan tanpa gawai bisa membantu menenangkan pikiran dan hadir di saat ini.
- Batasi Konsumsi Media Sosial: Terlalu banyak melihat “kehidupan sempurna orang lain” bisa memicu overthinking. Ambil jeda dari layar dan isi waktu dengan aktivitas nyata.
- Bicara dengan Orang Terpercaya: Kadang, kamu hanya perlu didengarkan. Curhat ke teman, keluarga, atau konselor bisa membuka perspektif baru dan meredakan tekanan batin.
Ingat: Berpikir Itu Perlu, Tapi Jangan Berlebihan
Pikiran yang tajam adalah aset, tapi ketika terlalu aktif tanpa kendali, ia bisa berubah jadi jebakan. Melatih diri untuk berpikir secukupnya—bukan berlebihan—adalah bentuk perawatan diri yang penting di era serba cepat ini.
(Ati)