
Diary Terakhir Arvalia Terungkap! Varellia Bertemu Sosok Mengerikan di Makamnya
Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 9)
VakansiInfo – Nyonya Claressa tersenyum lembut dan mengangkat cangkirnya. “Habiskan teh mu, Varellia. Sayang sekali jika kamu membiarkannya menguap begitu saja bersama angin.”
Varellia mengangkat cangkirnya. “Ya, Tante.”
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama untuk beberapa waktu sampai Varellia memutuskan untuk pulang karena harus melakukan sesuatu. “Aku pulang dulu, Tante. Kalau ada waktu, aku akan mampir ke rumah Tante.”
Nyonya Claressa tampak sedikit tidak rela. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan memanggil sopir untuk mengantarmu pulang.”
Varellia menggelengkan kepalanya, menolak dengan halus. “Tidak perlu, Tante. Ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku tidak bisa membuat sopir menunggu.”
Nyonya Claressa menghela nafas pendek. Beranjak berdiri dan memerintahkan maid untuk membereskan semua cangkir dan camilan. “Bereskan, bersantai hari ini sudah cukup.”
“Baik, Nyonya.”
Varellia beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah Nyonya Claressa dengan kotak di pelukannya. Para maid yang sedang berkeliaran di lorong membungkuk sopan. Memberi jalan tanpa mengatakan sepatah katapun.
Sesampainya di luar, Nyonya Claressa menatap Varellia. “Benar-benar tidak perlu di antar? Bagaimana jika ayah atau ibu mu khawatir karena aku membiarkanmu pulang tanpa pengawalan?”
“Tidak, Tante. Ayah dan ibu tidak akan khawatir. Meskipun aku tidak bisa melindungi orang lain, aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
“Terima kasih, Tante. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Varellia melangkah tanpa menoleh ke belakang. Melewati gerbang besar itu dan masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh di halaman luar. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah Arvalia yang sebesar istana. Tangannya mengelus kotak yang sekarang sedang berdiri di pangkuannya.
Ia melirik sopir pribadi keluarga. “Bawa aku ke tempat Arvalia di makamkan.”
“Baik, Nona.”
Mobil melaju kencang di jalanan beraspal putih itu menuju area pemakaman tempat Arvalia tinggal sekarang. Setelah mobil terparkir dengan sempurna di parkiran mobil. Varellia membuka pintu dan keluar. Berjalan menaiki anak tangga kecil yang terbuat dari tanah menuju rumah terakhir Arvalia.
Sesampainya di depan rumah itu, ia berhenti melangkah. Berjongkok di sampingnya dan mengusap nisan kayu itu. Tanpa mengatakan apa-apa, ia meraih sebuah ranting berujung tajam dan menggali lubang tidak jauh dari gundukan tanah yang mengubur mayat Arvalia.
Setelah dirasa lubang itu cukup untuk mengubur kotak berserta diary nya, Varellia berhenti. Ia memasukkan kotak itu ke dalam lubang dan menutupnya kembali. Tak lupa ia membentuknya menjadi gundukan tanah kecil yang lebih mirip dengan kuburan mini. Menyusun batu-batu kecil di pinggirnya dan menancapkan ranting itu di atas kuburan tersebut hingga menyerupai nisan.
Dengan tangan berlumuran tanah kuburan, Varellia melangkah pergi menuruni anak tangga menuju mobil keluarganya. Gadis itu berhenti bergerak untuk beberapa saat. Kepalanya menoleh ke belakang. Di sana, sosok itu muncul lagi. Kali ini dengan wujud aslinya. Kepala hancur, badan terbelah dua, bekas sayatan di mana-mana. Sosok itu lebih terlihat seperti korban mutilasi gagal di bandingkan dengan korban kecelakaan biasa.
Varellia tidak terlalu terkejut saat melihatnya kali ini. Ia tidak tahu apakah itu wujud Arvalia sebelum meninggal atau sosok jin seperti yang Arvalia ceritakan di buku diary nya. Varellia merogoh saku jaketnya dan mengambil sekotak tisu basah. Tanpa mengatakan apapun, ia mengelap tangannya dengan tisu basah itu dengan mata terfokus pada sosok itu.
Sampai tangannya benar-benar bersih dan wangi tanpa ada noda tanah kuburan, Varellia terus membersihkan tangannya. Setelah selesai, ia membuang semua tisu basah itu ke tempat sampah yang ada di sana. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya.
“Aku tidak membawa apapun dari rumahmu. Aku tidak berniat untuk mencuri bangunan milikmu. Kembalilah ke alam mu, jangan ganggu aku.”
Setelah kata-katanya terucap, sosok itu menghilang. Varellia berbalik pergi dan masuk ke mobilnya. Mobil melaju meninggalkan parkiran. Varellia menatap ke depan. Semuanya selesai disini. Parkiran mobil itu tertinggal jauh di belakang. Bersama dengan sosok yang Varellia tidak ketahui siapa identitasnya.”
Aku berhenti menulis. Membaca ulang dari awal. Akhirnya sedikit menakutkan ya? Aku menutup buku diary ku dan beranjak berdiri. Melangkah ke arah Nathania dan memberikan buku itu padanya.
“Sudah selesai, nggak ada bab tambahan atau bonus soalnya kalau diterusin kayaknya bakalan gelap gulita.”
“Aku punya lampu, mau?”
Aku tersenyum tipis dan duduk di kursi.
“Nggak udah, Tha. Duniaku jadi terang benderang semenjak ada kamu. Tapi dunia tokoh dalam novel ini nggak sesederhana itu. Aku nggak mau kesan awalnya hilang cuma karena pengungkapan kematian salah satu tokoh utama.”
“Gitu ya? Bagus deh kalau gitu, aku juga nggak terlalu suka yang horror kayak gitu. Makasih ya, Vella. Kamu effort banget sampe bikinin novel khusus buat aku segala. You are the best, Vella!”
Aku hanya tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apa. Nathania memeluk buku diary itu. Wajahnya tampak jauh lebih cerah dari saat aku melihatnya pertama kali setelah sekian lama. Aku mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Andai kamu benar-benar pergi seperti Arvalia dalam novel itu, seberapa besar rasa sakit yang akan kamu torehkan?
Aku menjauhkan tanganku dari kepalanya.
“Thania, kalau suatu hari kamu benar-benar ninggalin aku, apa yang harus aku lakuin supaya kamu nggak ngelakuin itu?”
Nathania terdiam beberapa saat, sepertinya gadis itu belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang aku katakan. Tangannya terulur dan mengusap punggung tanganku.
“Kamu ngomong apa sih, Vel? Kenapa aku harus ninggalin kamu? Kamu kan tahu kalau aku tuh sayang banget sama kamu. Mana tega aku ninggalin kamu?”
“Ini bukan sekadar pergi lalu kembali lagi, Thania. Aku nggak tahu perasaan buruk apa ini tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak tahu seberapa dalam luka yang akan kamu tinggalkan kalau seandainya kamu benar-benar pergi dari hidup aku dan dari dunia ini.”
“Aku nggak akan pergi, Vella. Aku nggak akan ninggalin kamu. Kalau memang aku harus pergi sekarang, aku nggak akan nyusahin kamu. Aku nggak tahu seberapa dalam luka itu tapi aku nggak akan biarin kamu nyusul aku. Masa depan kamu layak diperjuangkan. Jangan nyerah cuma karena aku nggak lagi selalu ada di samping kamu.”
Senyumnya yang menawan membuatku tidak bisa bisa mengalihkan pandangan darinya. Ia melanjutkan, suaranya jauh lebih lembut dan pelan seolah sewaktu-waktu dia akan terbang tertiup angin.
“Aku akan selalu ada, hidup di hati kamu. Aku akan selalu dukung kamu. Aku akan selalu ingat kebaikan kamu. Aku akan selalu mendoakan kamu dari jauh. Aku nggak akan pernah lupa kalau aku pernah punya sahabat sebaik kamu, Vella.”
Raut wajahnya berubah serius, dia menggenggam tanganku lebih erat.
“Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, aku nggak mau kepergian aku membuat kamu kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar sahabat masa kecil. Kamu memiliki keluarga yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Jangan sia-siakan mereka, kamu ngerti kan?”

Profil Penulis
Rananzy Ninxy Halstera adalah seorang pelajar SMA yang memiliki ketertarikan besar dalam dunia kepenulisan, khususnya cerita fiksi bertema persahabatan, kehidupan remaja, dan emosi yang mendalam. Sejak usia muda, ia telah mulai mengekspresikan ide dan perasaannya melalui tulisan, menjadikan setiap karyanya terasa personal dan penuh makna
Melalui cerita-ceritanya, Rananzy berusaha menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang hubungan antar manusia, kehilangan, serta perjalanan menemukan jati diri. Gaya penulisannya yang sederhana namun menyentuh membuat pembaca mudah terhubung dengan setiap karakter yang ia ciptakan.
Ke depan, Rananzy memiliki impian untuk menerbitkan novel pertamanya dan terus berkembang sebagai penulis yang mampu menginspirasi banyak orang melalui karya-karyanya. (Red)



