Aku Menunggu di Depan Ruang Operasi… Sampai Dokter Mengungkap Kebenaran yang Menghancurkan Hati
8 mins read

Aku Menunggu di Depan Ruang Operasi… Sampai Dokter Mengungkap Kebenaran yang Menghancurkan Hati

👁️ 0 views

Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 10) Tamat

VakansiInfoAku menunduk menatap tangannya yang menggenggam erat tanganku. Kata-katanya terus terngiang di telingaku. Sentuhannya yang hangat menyentuh hingga ke sudut hatiku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap matanya. Senyum hangatnya kembali muncul, lebih hangat dari sinar matahari pagi.

“Aku ngerti, Thania.”

“Bagus! Kalau kamu nggak ngerti, aku akan terus kasih tahu sampai kamu ngerti. Inget ya, Vella. Seorang Nathania nggak selemah itu, bahkan aku aja lebih kuat dari kamu.”

Ia terkekeh kecil saat mengatakan itu. “Jangan pikirin tentang yang kayak gitu lagi ya, nggak baik. Kalau kita punya banyak waktu, kita harus menikmati waktu itu dengan benar sebelum terlambat.”

“Aku cuma belum siap, Tha.”

“Waktu nggak akan nunggu sampai kamu siap baru kejadian, Vella. Kalau nunggu kamu siap itu bakalan lama banget, dan waktu jelas nggak bisa ngelakuin itu. Kalau dia harus nunggu kamu, tugasnya gimana? Kan perputaran waktu itu nggak bisa dihentikan. Walaupun jam di rumahmu mati, perputaran waktu tetap nggak akan berhenti.”

“Oke, aku akan terima.”

Aku hanya bisa mengatakan ya meskipun aku tahu tidak semudah itu untuk aku kehilangan dia. Dia memang bukan satu-satunya orang yang berharga bagiku, tapi dia adalah Nathania. Sosok gadis yang menemaniku di masa-masa rapuhku dulu.

Pintu kamar terbuka pelan, memperlihatkan sosok Nathalia.

“Kak Thalia? Udah selesai?”

Nathalia melangkah masuk dan mengangguk membenarkan. “Udah, gimana pembicaraan kalian?”

“Aman,” jawabku dan mengacungkan jempol tangan kanan.

Nathalia mengangguk mengerti dan menarik satu kursi, menempatkannya di sampingku dan duduk di atasnya.

“Kakak udah konsultasi sama Dokter yang nanganin kamu dan katanya operasi bisa dilakukan sekarang juga. Kamu siap, kan?”

“Aku siap, Kak. Lebih cepat lebih baik. Aku juga mau operasinya selesai sebelum malam tiba. Aku mau lihat bulan begitu aku membuka mataku lagi.”

Aku mengepalkan tanganku yang satunya.

“Vella, kamu mau nungguin aku kan? Mungkin akan memakan waktu lama, tapi aku akan lebih semangat lagi kalau ada kamu yang nungguin aku.”

“Oke, aku nggak keberatan.”

Suara ketukan terdengar dari arah pintu. Nathalia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu, membukanya pelan. Dokter yang menangani Nathania terlihat bersama beberapa perawat dan juga sebuah tandu berjalan yang akan membawa gadis itu menuju ruang operasi.

Nathalia membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Aku menatap Nathania, gadis itu hanya tersenyum tipis seolah mencoba meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti yang aku katakan saat kami masih kecil dulu.

Dokter dan perawat berjalan masuk. Memindahkan Nathania ke atas tandu dan mendorongnya keluar dari kamar. Aku dan Nathalia mengikuti di belakang. Melewati lorong yang panjang menuju ruang operasi.

Pintu ruang operasi dibuka oleh salah satu perawat. Nathania di bawa masuk ke dalam. Pintu itu ditutup rapat. Aku dan Nathalia duduk di kursi tunggu. Berdoa dan berharap bahwa Nathania akan kembali pada kami.

Baca Juga  STUDY TOUR, SOCIAL DISTRACTION, and SPOILER MOJANG BANDUNG (The end)

Berjam-jam kami menunggu tapi pintu ruang operasi itu tidak kunjung terbuka. Perasaan khawatir itu merayap masuk ke dalam dada. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan dia meskipun aku bilang “aku siap” sekalipun.

Keadaan Nathalia tidak lebih buruk dariku. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Tangannya saling bertautan. Seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Nathania pasti akan kembali.

Kemudian dia menoleh ke arahku, berkata pelan. “Kamu terlihat lebih tenang dari yang aku bayangkan. Apa kamu sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi cepat atau lambat?”

Aku memang terlihat tenang, tidak gugup, tidak menangis, bahkan juga tidak berteriak atau berjalan ke sana kemari karena panik. Tapi siapa yang tahu perasaan apa yang saat ini sedang aku tahan untuk tidak keluar?

Aku tahu Nathania akan baik-baik saja. Aku tahu dia akan kembali sehat seperti dulu. Tapi berapa lama?

Aku beranjak dan berlalu pergi menuju mushola yang ada di dekat rumah sakit.

“Aku mau sholat ashar dulu,” ucapku tanpa menunggu jawaban dari Nathalia.

Langkah kakiku membawaku ke halaman depan mushola yang penuh oleh kerabat dekat atau teman dari pasien rumah sakit ini. Aku membuka sepatu dan kaos kakiku dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.

Setelah selesai, aku segera keluar menuju ruang sholat. Aku meraih mukena yang tergantung di dinding dan mengenakannya. Melaksanakan sholat dan berdoa kepada Allah agar Nathania panjang umur dan selalu bahagia. Dan semoga Nathania tidak merasakan sakit seusai operasi nanti.

Aku melepas mukena dan menggantungkannya di dinding. Berjalan keluar dari mushola, mengenakan sepatu dan kaos kaki.

Tanpa membuang-buang waktu aku segera berlari kecil menuju tempat Nathalia menunggu. Dengan nafas sedikit terengah aku duduk di sampingnya. Aku menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

Jarum jam menunjukkan pukul 17.45 saat lampu ruang operasi mati.

Pintu ruang operasi terbuka lebar. Dokter dan para perawat yang tadi masuk ke dalam ruang operasi mendorong tandu tempat Nathania berbaring. Membawa gadis itu ke dalam ruang IGD. Aku dan Nathalia mengikuti dari belakang.

Aku mengucap syukur dan menahan air mataku agar tidak jatuh.

Pintu ruang IGD tertutup pelan. Lalu tak lama Dokter kembali keluar dan berjalan ke arah kami.

“Pasien atas nama Nathania berhasil melewati masa-masa kritisnya. Menurut pengamatan saya, Nathania akan membuka matanya setelah matahari terbenam.”

“Terima kasih, Dokter. Apakah Nathania sudah bisa dijenguk?”

“Tentu, hanya saja jam jenguk di batasi dan hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam. Silahkan cuci tangan anda dan berganti pakaian dengan pakaian khusus.”

“Baik, Dokter.”

Dokter dan para perawat melangkah pergi. Nathalia menatapku, aku mengangguk mengerti.

Baca Juga  “Dia Sudah Lama Pergi…” Kisah Narvella dan Misteri Nathania yang Mengusik Hati

“Kakak aja yang masuk,” ucapku dan berjalan pergi mengikuti langkah Dokter.

Sebelum Dokter memasuki ruangannya, aku mencegah langkahnya.

“Permisi, Dokter. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan mengenai kondisi Nathania yang sebenarnya.”

Kilatan keterkejutan muncul di mata Dokter itu. Tangannya bergerak, membuka pintu lebar.

“Kita bicarakan di dalam.”

Aku melangkah masuk dan menutup pintu. Dokter itu duduk di kursi kerjanya.

“Dok, Nathania nggak benar-benar sembuh kan? Di dalam diri dia, tersembunyi penyakit yang jauh lebih berbahaya. Saya tahu dia akan kembali sehat seperti dulu, tapi itu hanya sementara.”

Aku menggenggam erat kedua tanganku. Setidaknya, aku mohon, jangan katakan sesuatu seperti yang sudah aku ketahui. Tolong yakinkan aku bahwa itu hanya mimpi. Bahwa aku tidak akan kehilangan dia secepat ini.

“Berapa lama dia akan bertahan sampai penyakit itu menggerogoti tubuhnya?”

“Dua tahun, hanya dua tahun. Bahkan jika Nathania melakukan terapi dengan rutin atau minum obat-obatan rumah sakit untuk bertahan hidup. Dia hanya akan bertahan selama dua tahun.”

Aku menghela nafas berat.

“Baik, terima kasih karena telah meluangkan waktu anda, Dokter.”

Tanpa mengatakan apapun lagi, aku segera berbalik dan menyentuh gagang pintu.

Suara Dokter menghentikan langkahku.

“Tidak ada siapapun yang tahu tentang penyakit itu selain saya dan keluarganya. Apakah Nathania yang memberitahumu?”

“Dia nggak bilang apa-apa, aku cuma ngerasa janggal. Aku selidiki diam-diam dan ternyata dia memang mengidap penyakit itu. Sama seperti almarhumah ibunya.”

Aku membuka pintu, melangkah keluar.

“Semoga anda selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Orang sebaik anda tidak pantas diperlakukan dengan buruk hanya karena ingin mengungkapkan kebenaran tentang kematian seseorang yang anda cintai, Dokter.”

Pintu tertutup rapat dengan decitan halus. Aku berjalan menuju ruang IGD tempat Nathania berada.

Langkahku berhenti di depan pintu. Di dalam sana, Nathalia menggenggam tangan Nathania yang tidak terbalut infus. Air matanya luruh, tatapannya penuh kasih sayang.

“Nathania,” bisikan lirih itu menjadi suara terakhir yang aku dengar sebelum semuanya menjadi gelap gulita.

Tamat

Rananzy Ninxy Halstera Sahabatku adalah Inspirasiku

Profil Penulis

Rananzy Ninxy Halstera adalah seorang pelajar SMA yang memiliki ketertarikan besar dalam dunia kepenulisan, khususnya cerita fiksi bertema persahabatan, kehidupan remaja, dan emosi yang mendalam. Sejak usia muda, ia telah mulai mengekspresikan ide dan perasaannya melalui tulisan, menjadikan setiap karyanya terasa personal dan penuh makna.

Melalui cerita-ceritanya, Rananzy berusaha menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang hubungan antar manusia, kehilangan, serta perjalanan menemukan jati diri. Gaya penulisannya yang sederhana namun menyentuh membuat pembaca mudah terhubung dengan setiap karakter yang ia ciptakan.

Ke depan, Rananzy memiliki impian untuk menerbitkan novel pertamanya dan terus berkembang sebagai penulis yang mampu menginspirasi banyak orang melalui karya-karyanya. (Red)

About The Author