
Lonjakan ISPA Capai Jutaan Kasus, Combiphar Hadirkan Edukasi dan Pengobatan Gratis di Jakarta
VakansiInfo, Jakarta – Perubahan cuaca yang tak menentu di musim pancaroba sering kali membawa dampak pada kesehatan, terutama bagi keluarga yang beraktivitas di perkotaan. Salah satu ancaman yang kerap muncul adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yang jumlah kasusnya masih tinggi di Indonesia.
Di Jakarta, data Dinas Kesehatan mencatat sekitar 2,5 juta kasus ISPA sepanjang Januari hingga November 2025. Angka ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pencegahan dan penanganan dini masih perlu terus diperkuat, terutama di tingkat keluarga.
Melihat kondisi tersebut, Combiphar melalui program Combi Hope mengambil langkah nyata dengan menggelar edukasi kesehatan dan pengobatan gratis di wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan 55 tahun Combiphar yang mengusung semangat “Sehatkan Kini, Menangkan Esok”.
Program ini tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan, tetapi juga membekali ratusan kader PKK, Posyandu, dan Dasa Wisma dengan pengetahuan penting tentang ISPA, termasuk cara mengenali jenis batuk dan memilih penanganan yang tepat. Peran kader ini dinilai krusial karena mereka menjadi garda terdepan dalam menyebarkan edukasi kesehatan ke masyarakat.
Selain edukasi, kegiatan ini turut didukung oleh Comtusi, obat batuk yang telah digunakan selama lebih dari tiga dekade di Indonesia. Kini, produk tersebut hadir dalam varian batuk kering dan batuk berdahak yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Di tengah aktivitas yang padat, batuk sering dianggap sepele. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup, mulai dari menurunnya fokus hingga produktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.
Melalui kolaborasi antara sektor kesehatan, pemerintah, dan swasta, upaya pencegahan ISPA diharapkan semakin efektif. Dengan langkah sederhana seperti menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, dan memahami gejala sejak awal, keluarga dapat lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di musim pancaroba. (Eff)



