Sab. Agu 30th, 2025

Jadi Telinga yang Tulus, Bukan Penghakim: Gerakan P3LP untuk Kesehatan Mental Sejak Dini

Jadi Telinga yang Tulus, Bukan Penghakim: Gerakan P3LP untuk Kesehatan Mental Sejak Dini

VakansiInfo – Di balik kesunyian ruang kelas yang selama ini hanya terisi deretan hafalan dan angka, kini mulai tumbuh harapan baru: ruang yang aman untuk hati-hati yang tengah terluka. Melalui pendekatan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) berupaya menanamkan budaya peduli emosional, dimulai dari lingkungan pendidikan—dari guru, siswa, hingga keluarga.

P3LP bukan terapi, melainkan empati. Sebuah pelatihan sederhana yang mendorong siapa pun menjadi pendengar yang baik dan pemberi ruang aman bagi mereka yang sedang bergumul dengan tekanan emosional.

“Promosi kesehatan jiwa adalah cara kita menjaga diri tetap berada di zona hijau—zona aman secara mental,” ujar Yunita Restu Safitri, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Jiwa dan Kemitraan, Kemenkes RI, dalam pelatihan daring P3LP, Jumat (18/7/2025).

Hadir, Mendengar, Tanpa Menghakimi

Yunita menegaskan bahwa P3LP bukan praktik psikoterapi dan tidak memerlukan latar belakang profesional di bidang kesehatan mental. Siapa pun bisa menjadi “penolong pertama”—guru, teman, rekan kerja, atau kader di masyarakat.

Baca Juga  Mengelola Waktu dan Energi, Kunci Produktivitas Tanpa Stres

“Kita tidak perlu memberi solusi, cukup hadir, dengarkan tanpa menghakimi, dan biarkan orang itu merasa aman,” jelasnya.

Kenali Zona Emosi

Dalam pelatihan P3LP, peserta belajar mengenali kondisi emosional seseorang melalui sistem zona warna:

  • Hijau: Sehat mental dan emosional
  • Biru: Mengalami stres ringan
  • Kuning: Terjadi gangguan emosional
  • Merah: Perlu intervensi profesional segera

Tugas penolong pertama adalah hadir sebelum seseorang terjatuh ke zona merah. Untuk itu, prinsip 3M menjadi dasar pendekatan P3LP:

  1. Memperhatikan tanda-tanda stres atau perubahan perilaku,
  2. Mendengarkan dengan empati dan tanpa menghakimi,
  3. Menghubungkan ke bantuan lanjutan seperti guru BK, keluarga, atau tenaga kesehatan mental profesional.

Sekolah: Tempat Aman bagi Jiwa

Salah satu misi utama dari pelatihan ini adalah menjadikan sekolah sebagai ruang aman bagi kesehatan mental, bukan hanya tempat mengejar akademik.

“Guru yang datang ke sekolah dengan hati gembira akan menularkan energi cinta itu kepada siswanya. Maka, guru juga harus didukung kesejahteraan emosinya,” tegas Yunita.

Selain guru dan siswa, peran keluarga juga krusial. P3LP mendorong terwujudnya pengasuhan positif di rumah yang mampu menumbuhkan ketahanan emosi anak sejak dini.
Menumbuhkan Generasi Penolong

Baca Juga  “Bukan Gila, Hanya Butuh Didengar”: Melawan Stigma Gangguan Mental di Sekitar Kita

P3LP bertujuan membentuk generasi yang peduli, empatik, dan tangguh secara mental—bukan generasi yang mudah menghakimi. Dengan metode yang sederhana namun berdampak besar, pendekatan ini menjadi jembatan menuju Indonesia yang lebih sehat secara psikososial.

“Mari jadi penolong pertama, bukan penghakim pertama. Karena satu telinga yang tulus bisa menyelamatkan satu hati yang hampir menyerah,” tutup Yunita penuh harap.

(Mur)

Related Post