Alarm untuk Orang Tua: 93% Anak Indonesia Alami Karies Gigi, Kandungan Susu Formula Perlu Lebih Dicermati
3 mins read

Alarm untuk Orang Tua: 93% Anak Indonesia Alami Karies Gigi, Kandungan Susu Formula Perlu Lebih Dicermati

VakansiInfo, Jakarta – Tingginya angka masalah kesehatan gigi pada anak Indonesia kembali menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 93% anak Indonesia mengalami karies gigi, kondisi yang banyak dipengaruhi oleh pola makan dan konsumsi gula sejak usia dini.

Di tengah kondisi ini, para orang tua diingatkan untuk tidak lagi memilih susu formula hanya berdasarkan klaim yang tertera di bagian depan kemasan, seperti “mendukung tumbuh kembang” atau “tinggi kalsium”. Lebih dari itu, kandungan di dalam produk justru menjadi faktor yang perlu diperhatikan secara menyeluruh.

Susu formula merupakan asupan yang dikonsumsi secara rutin, sehingga setiap komposisi di dalamnya dapat berdampak pada kebiasaan makan dan kesehatan jangka panjang anak. Karena itu, orang tua perlu lebih teliti membaca label, termasuk bahan utama hingga bahan tambahan yang digunakan dalam produk.

Menurut dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), orang tua sebaiknya tidak berhenti pada klaim pemasaran semata. “Yang paling penting adalah memahami komposisi secara menyeluruh. Dari situ kita bisa melihat kualitas nutrisi yang benar-benar dikonsumsi anak setiap hari,” ujarnya.

Secara umum, bahan yang tercantum di urutan awal pada komposisi menunjukkan kandungan terbesar dalam produk. Jika susu segar menjadi bahan utama, hal ini menandakan penggunaan bahan dasar susu utuh sebagai sumber nutrisi penting seperti protein, kalsium, dan fosfor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Namun, perhatian juga perlu diberikan pada bahan tambahan seperti sukrosa, maltodextrin, sirup jagung, dan vanilin. Maltodextrin, misalnya, merupakan karbohidrat yang cepat berubah menjadi gula dalam tubuh. Sementara sirup jagung dan sukrosa termasuk sumber gula tambahan yang perlu dibatasi karena berhubungan dengan risiko karies gigi dan pola konsumsi manis sejak dini.

Paparan rasa manis yang terlalu sering juga dapat membentuk preferensi rasa anak terhadap makanan tinggi gula. Kondisi ini menjadi perhatian penting, terutama di tengah tingginya kasus karies gigi pada anak Indonesia.

Selain komposisi, proses produksi susu formula juga menjadi aspek penting yang perlu dipahami. Proses pemanasan yang berulang dalam produksi dapat memengaruhi struktur protein serta menurunkan sebagian kandungan nutrisi tertentu. Oleh karena itu, kualitas bahan baku dan proses pengolahan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Dalam konteks nutrisi, Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi terbaik bagi bayi karena mengandung komposisi alami dan antibodi yang penting bagi daya tahan tubuh. Namun, dalam kondisi tertentu ketika ASI tidak dapat diberikan secara optimal, susu formula menjadi alternatif yang perlu dipilih secara lebih cermat.

“Memilih susu formula bukan hanya soal merek, tapi tentang memahami apa yang masuk ke tubuh anak setiap hari. Orang tua perlu lebih kritis membaca label agar dapat mendukung tumbuh kembang anak secara lebih sehat,” tutup dr. Reza. (Red)

About The Author