Masuk Usia 17 Tahun Bisa Langsung Punya Rekening, Apa Manfaatnya bagi Generasi Muda?
3 mins read

Masuk Usia 17 Tahun Bisa Langsung Punya Rekening, Apa Manfaatnya bagi Generasi Muda?

VakansiInfo, Jakarta – Memasuki usia 17 tahun selama ini identik dengan memiliki KTP sebagai tanda resmi memasuki usia dewasa. Namun, ke depan, momen tersebut berpotensi sekaligus menjadi pintu masuk generasi muda ke sistem keuangan formal.

Pemerintah tengah merancang pemberian rekening bank secara otomatis kepada warga yang memasuki usia 17 tahun. Rekening tersebut rencananya diberikan melalui BRI atau BSI bersamaan dengan penerbitan KTP.

Rekening yang disiapkan juga direncanakan memiliki saldo awal Rp50.000. Meski demikian, mekanisme teknis serta sumber pendanaannya masih dalam tahap penyusunan.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai hal paling penting dari kebijakan tersebut bukan nominal saldo awal.

Menurutnya, akses ke rekening justru dapat menjadi kesempatan bagi anak muda untuk mulai mengenal dan menggunakan layanan keuangan formal.

“Yang menarik dari kebijakan ini sebenarnya bukan saldo Rp50 ribunya. Yang lebih fundamental adalah gagasan bahwa ketika seseorang memasuki usia dewasa dan memperoleh identitas sebagai warga negara, ia sekaligus memperoleh pintu masuk ke sistem keuangan dan sistem pembayaran nasional,” ujar Fakhrul dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga  Ngabuburit Sambil Trading, Cara Produktif Bangun Masa Depan Finansial di Bulan Ramadan

Dengan memiliki rekening, warga dapat memiliki akses untuk menabung, menerima pembayaran, melakukan transaksi digital, menerima transfer pemerintah, sekaligus mulai membangun rekam jejak keuangan.

Fakhrul menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari pembentukan monetary citizenship. Di era digital, menurutnya, akses terhadap sistem keuangan semakin penting karena transaksi sehari-hari semakin banyak dilakukan melalui infrastruktur pembayaran digital.

Bukan Sekadar Punya Rekening

Meski terlihat sederhana, pemberian rekening otomatis memiliki tantangan tersendiri.

Fakhrul mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan tidak cukup hanya dihitung dari berapa banyak rekening yang berhasil dibuat.

Kepemilikan rekening harus diikuti penggunaan secara aktif dan pada akhirnya mampu mendorong masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.

“Dua ratus juta rekening tidak otomatis berarti dua ratus juta masyarakat sudah financially included. Setelah account ownership, tahap berikutnya adalah account usage dan akhirnya economic participation,” katanya.

Karena itu, rekening bagi warga usia 17 tahun perlu didukung biaya layanan yang rendah, penggunaan yang mudah, sistem pembayaran yang saling terhubung, serta perlindungan data pribadi dan konsumen.

Baca Juga  Kemenperin Pacu Transformasi Digital Industri Lewat Program e-Smart IKM

Anak Muda Perlu Dibekali Literasi Keuangan

Hal lain yang tidak kalah penting adalah literasi keuangan.

Sebagian penerima rekening nantinya merupakan warga yang baru pertama kali mengenal sistem keuangan formal. Tanpa pemahaman yang memadai, rekening berisiko hanya menjadi akun yang dibuat tetapi tidak digunakan secara produktif.

Literasi keuangan dibutuhkan agar generasi muda memahami cara menabung, bertransaksi secara aman, menjaga data pribadi, dan menggunakan layanan keuangan secara bijak.

Fakhrul juga melihat digitalisasi transaksi telah mengubah cara memahami sistem moneter.

Jika dahulu akses terhadap uang banyak berkaitan dengan uang tunai, kini masyarakat juga membutuhkan akses terhadap infrastruktur yang memungkinkan uang bergerak.

“Di era digital, tugas berikutnya adalah memastikan rakyat mempunyai jalan untuk masuk ke tempat Rupiah bergerak,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, rencana rekening otomatis bagi warga usia 17 tahun berpotensi menjadi lebih dari sekadar pembukaan rekening baru. Kebijakan ini dapat menjadi langkah awal memperkenalkan generasi muda pada sistem keuangan digital sekaligus membangun kebiasaan finansial sejak dini. (Mur)

About The Author