Ketika Kantor Menjadi Sumber Tekanan: Mengenali Pola Rekan Kerja Toxic
3 mins read

Ketika Kantor Menjadi Sumber Tekanan: Mengenali Pola Rekan Kerja Toxic

VakansiInfo, Jakarta – Tempat kerja idealnya menjadi ruang untuk bertumbuh. Di sana, seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan, berkolaborasi, sekaligus membangun hubungan profesional.

Namun, tidak semua hubungan kerja berjalan sehat.

Ada kalanya tekanan bukan datang dari beban pekerjaan, melainkan dari interaksi dengan orang-orang di sekitar. Konflik yang terus berulang, komunikasi yang merendahkan, gosip hingga manipulasi dapat perlahan memengaruhi kenyamanan seseorang di tempat kerja.

Persoalannya, perilaku semacam itu tidak selalu hadir dalam bentuk pertengkaran.

Selalu Menjadi Korban

Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang selalu menempatkan dirinya sebagai korban.

Kesalahan dianggap berasal dari orang lain. Ketika terjadi persoalan, tanggung jawab berulang kali dialihkan.

Jika terjadi sekali, hal tersebut belum tentu berarti apa-apa. Namun, pola yang terus berulang dapat menyulitkan kerja sama karena tidak ada ruang untuk melakukan evaluasi secara objektif.

Gosip yang Menjadi Budaya

Gosip mungkin terlihat seperti percakapan ringan di kantor. Tetapi ketika membicarakan orang lain menjadi kebiasaan, dampaknya bisa lebih jauh.

Baca Juga  Belajar Mengenal Diri Sendiri di Usia Dewasa: 3 Cara Sederhana Menemukan Jati Diri

Kepercayaan antarrekan kerja dapat menurun. Orang menjadi berhati-hati berbicara karena khawatir percakapannya akan menjadi bahan pembicaraan berikutnya.

Dalam kondisi seperti itu, kantor perlahan kehilangan rasa aman secara sosial.

Sindiran dan Agresi Terselubung

Tidak semua bentuk konflik disampaikan secara terbuka.

Sindiran, komentar yang meremehkan, atau pujian yang sebenarnya merupakan ejekan dapat menjadi bentuk komunikasi pasif-agresif.

Perilaku tersebut sering kali sulit direspons karena pelakunya dapat berlindung di balik alasan bahwa perkataan tersebut hanya candaan.

Pesona yang Tidak Konsisten

Menariknya, perilaku toxic tidak selalu datang dari orang yang terlihat kasar.

Seseorang bisa sangat ramah di depan atasan, menyenangkan ketika membutuhkan bantuan, tetapi berbeda ketika berhadapan dengan orang yang dianggap tidak memberikan keuntungan baginya.

Karena itu, konsistensi menjadi penting.

Bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak memiliki kepentingan tertentu dapat memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan sekadar melihat bagaimana ia memperlakukan kita.

Ketika Interaksi Menguras Energi

Ada pula tanda yang lebih personal: perasaan setelah berinteraksi.

Baca Juga  Self-Healing, Cara Berdamai dengan Luka Batin dan Belajar Menyayangi Diri

Jika percakapan dengan seseorang secara konsisten membuat kita merasa cemas, lelah, tertekan atau kehilangan energi, hubungan tersebut perlu dievaluasi.

Namun, perasaan tersebut juga tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk memberikan label kepada orang lain.

Yang lebih penting adalah melihat pola perilaku, frekuensi, konteks dan dampaknya.

Batasan Adalah Bagian dari Hubungan Profesional

Menghadapi rekan kerja yang sulit bukan berarti harus selalu berkonfrontasi.

Menjaga batasan, mengurangi keterlibatan dalam gosip, menyampaikan komunikasi secara tegas dan mendokumentasikan persoalan yang serius merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Jika perilaku sudah mengarah pada perundungan, intimidasi atau bentuk pelanggaran di tempat kerja, jalur resmi seperti HR atau atasan dapat digunakan.

Sebab, lingkungan kerja yang sehat bukan berarti lingkungan tanpa konflik. Perbedaan pendapat tetap akan ada. Yang membedakan adalah apakah konflik tersebut diselesaikan secara profesional atau justru berkembang menjadi pola yang merugikan orang lain. (Ati)

About The Author