Vokasi UI Bekali Lansia di Bogor dengan Edukasi Cegah Neuropati akibat Diabetes
5 mins read

Vokasi UI Bekali Lansia di Bogor dengan Edukasi Cegah Neuropati akibat Diabetes

VakansiInfo, Bogor – Menjaga kesehatan lansia dengan diabetes tidak hanya berkaitan dengan mengontrol kadar gula darah. Kemampuan mengenali gejala komplikasi dan melakukan perawatan diri juga penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Hal tersebut menjadi perhatian Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (Vokasi UI) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Skema Kemitraan Tahun 2026.

Vokasi UI menggelar kegiatan bertajuk “Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Perawatan Diri dalam Pencegahan Neuropati Sensorik pada Lansia dengan Diabetes” di Aula Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan edukasi kesehatan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.

Program tersebut didukung pendanaan Vokasi UI dan dilaksanakan melalui Departemen Kesehatan Terapan serta Program Studi Fisioterapi.

Kenali Neuropati Sensoris Sejak Dini

Diabetes melitus dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satunya adalah neuropati sensoris, yaitu gangguan saraf tepi yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam merasakan sentuhan, suhu, maupun nyeri.

Gangguan tersebut perlu diwaspadai karena seseorang dapat mengalami luka tanpa menyadarinya. Pada penderita diabetes, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya luka kaki diabetik hingga komplikasi yang lebih serius.

Karena itu, pemahaman mengenai gejala dan cara melakukan perawatan diri menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan lansia dengan diabetes.

Riza Pahlawi mengatakan masih banyak lansia yang menganggap gejala neuropati sebagai bagian biasa dari proses penuaan.

“Banyak lansia dengan diabetes yang sebenarnya sudah mengalami gejala awal neuropati sensoris, tetapi tidak menyadarinya karena dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

“Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan, risikonya bisa berujung pada luka kaki diabetik hingga amputasi,” lanjutnya.

Melalui program tersebut, lansia dibekali pengetahuan sekaligus keterampilan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  KaBOGORFEST 2026 Sukses Digelar, Jadi Ajang Hiburan dan Persatuan Warga Kabupaten Bogor

Tidak Hanya Edukasi, Peserta Juga Diperiksa

Program Pengmas Vokasi UI tidak hanya diisi dengan penyuluhan. Peserta juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar untuk membantu mengetahui kondisi kesehatan mereka.

Rangkaian kegiatan terdiri dari dua bagian utama.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai neuropati sensoris. Materi yang diberikan mencakup pengertian, faktor penyebab, karakteristik gangguan, gejala serta langkah-langkah pencegahannya.

Peserta juga dikenalkan dengan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, seperti kesemutan, nyeri menusuk atau terasa terbakar, alodinia, hingga menurunnya kemampuan merasakan suhu dan nyeri.

Sebelum mengikuti penyuluhan, peserta mengisi formulir daring untuk mengetahui tingkat pemahaman awal sekaligus menggali riwayat gejala neuropati sensoris.

Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan pemahaman peserta setelah mendapatkan edukasi.

Sebagai bahan yang dapat dipelajari kembali di rumah, tim pengabdi juga membagikan buku saku kepada para peserta.

Pada sesi berikutnya, dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar yang meliputi tekanan darah, saturasi oksigen, denyut nadi dan gula darah sewaktu.

Peserta juga mengikuti pemeriksaan sensoris sederhana melalui uji tajam-tumpul dan halus-kasar.

Pemeriksaan tersebut membantu tim mengidentifikasi peserta yang memiliki faktor risiko tertentu, termasuk kadar gula darah tinggi maupun gangguan sensoris.

Bagi peserta yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, tim memberikan rekomendasi tindak lanjut sesuai kondisi yang ditemukan.

Libatkan Pengelola Pesantren

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari kelompok lansia di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina serta pengelola pesantren.

Keterlibatan pengelola pesantren menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Pasalnya, edukasi kesehatan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai.

Pengelola pesantren dapat berperan dalam mengingatkan para lansia untuk menjaga kesehatan, memperhatikan gejala yang muncul dan melakukan pemeriksaan secara berkala.

Ust. Abdullah, pengelola Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina, mengapresiasi edukasi dan pemeriksaan yang diberikan tim Vokasi UI.

“Kami sangat berterima kasih atas kegiatan ini. Selama ini banyak dari kami yang hanya tahu diabetes berhubungan dengan gula darah, tapi tidak paham bahwa kaki yang kesemutan atau mati rasa juga bisa jadi tanda bahaya,” ujarnya.

Baca Juga  Api Lahap Kandang Ayam Broiler di Caringin, Penyebab Masih Diselidiki

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bagi para lansia mengenai pentingnya menjaga kesehatan.

“Setelah mengikuti penyuluhan dan diperiksa langsung oleh tim dari UI, kami jadi lebih paham cara merawat diri sendiri,” katanya.

Pengelola pesantren juga berkomitmen untuk terus mengingatkan para lansia agar lebih rutin memperhatikan kondisi kesehatan mereka.

Bawa Pengetahuan Kampus Lebih Dekat ke Masyarakat

Program yang dilakukan Vokasi UI tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan dari lingkungan akademik dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya memberikan informasi, tim pengabdi juga mengajak peserta mengenali kondisi tubuh melalui pemeriksaan kesehatan dan memberikan pengetahuan mengenai perawatan diri.

Bagi lansia dengan diabetes, pemahaman mengenai neuropati sensoris menjadi penting karena sejumlah gejalanya dapat muncul secara perlahan dan kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.

Dengan mengenali gejala lebih awal, masyarakat diharapkan dapat lebih cepat mengambil langkah yang tepat dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi Vokasi UI terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Good Health and Well-Being.

Melalui pengabdian kepada masyarakat, Vokasi UI tidak hanya membawa ilmu dari kampus ke tengah masyarakat, tetapi juga membuka ruang kolaborasi agar pengetahuan tersebut dapat memberikan manfaat secara langsung.

Pada akhirnya, edukasi kesehatan bukan hanya tentang mengetahui suatu penyakit, tetapi juga tentang membangun kebiasaan untuk lebih peduli terhadap kondisi tubuh.

Bagi lansia dengan diabetes, langkah sederhana seperti mengenali perubahan sensasi pada kaki, menjaga kesehatan, memantau kondisi tubuh dan tidak menunda pemeriksaan ketika muncul keluhan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup. (Eff)

About The Author