Tentang Ular, Kolor, dan Orang yang Terpaksa Pegang Kendali
VakansiInfo – Air Kalimalang masih gerak.
Bukan gerak biasa.
Gerak yang bikin perasaan nggak tenang, kayak lagi bilang pelan-pelan,
“Santai… gue belum selesai.”
Gue duduk setengah rebahan di pinggir kali.
Napas belum rapi, kepala masih panas, dan tangan gue—entah kenapa—refleks ngecek kolor.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Bukan karena mesum.
Tapi karena barusan martabat hampir ikut hanyut.
Komar buka suara duluan. Nada sok santai, tapi matanya nggak lepas dari air.
“Sumpah ya… barusan itu uler kan?
Bukan perasaan gue doang?”
Fadil langsung nyamber. Panik tanpa rem.
“ULER, MAR! ULER BELANG!
GEDE LAGI!
Gue liat kepalanya nongol dikit… terus ilang!”
Irshan berdiri sambil megang jidat. Mukanya capek ngadepin manusia panik.
“Makanya gue bilang jangan panik di tengah,” katanya.
“Panik dikit, refleks narik apa aja.”
Gue masih diem.
Masih ngumpulin napas. Dan harga diri.
Andi Aldy nengok ke arah gue. Mukanya ragu. Agak bersalah.
“…eh, Cil.”
“Maaf ya.”
“Maaf kenapa?”
Dia nunjuk ke bawah. Ke arah celana gue.
“Yang narik kolor lu…”
“Kayaknya refleks gue.”
Gue bengong.
Dua detik.
Full.
Terus Ucup langsung pecah.
“HAHAHAHA!”
“Pantesan lu berenang kayak dikejar utang!”
“Gue kira lu ngejar prestasi!”
Rohman cuma geleng-geleng.
“Lu berempat itu panik kolektif.”
“Uler satu…”
“Martabat si Acil nyaris ilang.”
Maya, yang dari tadi diem, nyeletuk halus tapi nusuk.
“Gue kira tadi si Acil kenapa renangnya brutal.”
“Ternyata lagi nyelametin… aset.”
Ketawa pecah.
Ketawa lepas.
Ketawa lega, karena bencana nasional barusan gagal terjadi.
Gue ikut ketawa.
Bukan karena lucu doang—tapi karena napas akhirnya balik normal.
Ucup masih ngakak.
“Tapi jujur ya, Cil,” katanya.
“Pas lu gaspol tadi… gue bangga.”
“Kenapa?”
“Bukan karena lu berani.”
“Tapi karena lu konsisten jaga kehormatan.”
Rohman nyeletuk datar,
“Itu bukan tes berenang.”
“Itu tes bertahan hidup.”
“Plus tes moral.”
Maya nengok ke gue, senyum tipis.
“Nilai berenang lu mungkin biasa.”
“Tapi nilai perjuangan nutupin kolor…”
“A.”
Gue tarik napas panjang.
Nengok lagi ke air.
Masih gerak.
Masih tenang.
Kayak nggak peduli barusan hampir bikin tragedi.
Gue nyemplung buat tes berenang.
Pulang-pulang malah dapet pengalaman hidup.
Dan air itu…
kayak masih nyimpen niat lain.
Instruktur maju dikit. Masih muda. Kaos Mapala UNISMA-nya pudar. Gayanya terlalu santai buat orang-orang yang barusan trauma.
“Tarik napas dulu,” katanya.
Kami nurut. Walaupun napas nggak langsung rapi.
“Tes berenang selesai.”
Nggak ada yang sorak.
Kata selesai itu belum kerasa sah.
“Kita lanjut.”
Nah.
Di situ kegelisahan kolektif muncul.
“Naik kano. Mendayung.”
Fuji langsung nengok.
“Lah… lanjut?”
“Kirain abis itu kelar.”
“Belum,” jawab instruktur.
“Ini kan latihan.”
Wahyu maju setengah langkah.
“Bang… barusan ada uler.”
Instruktur cuma ngangguk.
“Iya. Ular air.”
“Aman.”
Kata aman itu keluar terlalu enteng.
“Aman versi alam,” Fuji nanya,
“atau aman versi manusia?”
Instruktur senyum dikit.
“Versi Mapala.”
“Nah,” Wahyu geleng pelan,
“itu justru yang bikin deg-degan.”
Benita udah berdiri duluan. Pegang dayung. Tenang.
Kayak ini kolam latihan, bukan Kalimalang.
“Bang, kalau kano kebalik gimana?”
“Pegang dayung.”
“Badan rileks.”
“Kalau kebalik… dibalikin lagi.”
“Bang, jawabannya simpel amat,” Fuji nahan ketawa.
“Di alam,” kata instruktur,
“yang ribet itu pikiran.”
Kano mulai didorong ke air.
Pelan.
Pluk.
Gue duduk. Pegang dayung.
Ini bukan sekadar mendayung.
Ini lanjutan dari keberanian yang keburu gue pilih.
Di depan sana, kano pertama udah jalan.
Lurus.
Rapi.
Dayung masuk barengan.
Kelihatannya kayak satu kesimpulan sederhana:
Oh… ini yang namanya kerja tim.
Sedangkan kano gue?
Masih cium-ciuman sama beton tepian.
Kano depan:
kayak iklan susu pertumbuhan.
Kompak. Cerah.
Kano gue:
kayak sinetron stripping jam tujuh malam.
Ribut. Semua ngerasa paling bener.
“CIL! LIAT TUH YANG DEPAN!” teriak Fuji.
“ITU DAYUNG APA IKLAN KEKOMPAKAN?!”
“Yang satu udah ekspedisi,” tambah Wahyu,
“yang satu masih tutorial.”
Gue tarik napas.
Kalo mau malu, sekalian.
Kalo mau jalan, ya mulai bener.
“Dengerin,” kata gue.
“Kita emang nggak serapi mereka.”
“Tapi kalo nggak berhenti ribut…”
“kita bakal jadi tontonan se-Kalimalang.”
Semua diem.
Kano masih nempel beton.
Tapi nggak muter lagi.
Instruktur akhirnya nunjuk gue.
“Lu yang ngatur arah.”
“Hah?”
“Lu paling ringan.”
“Paling tengah.”
“Dan paling nggak ribut.”
Semua nurut.
Gue pegang dayung.
Telapak tangan basah.
Jantung deg-degan.
“Kiri, yang kanan dayung.”
“Kanan, yang kiri.”
Forklift, pikir gue.
Masalahnya satu:
semua ngerti konsepnya,
nggak ada yang sabar nunggu komando.
Kano muter.
Berisik.
Terus—
DUK.
Nabrak beton tepian.
Instruktur geleng-geleng. Ketawa tipis.
“Satu komando,” katanya.
“Bukan satu pendapat.”
Gue tarik napas.
Dalam.
“Reset,” kata gue.
“Anggap kita lagi dorong troli Alfamart.”
“Pelan.”
“Ikutin suara gue.”
Kano masih nempel beton.
Air Kalimalang masih gerak.
Dan di kepala gue cuma ada satu kesimpulan sederhana:
Forklift aja kalo dibawa rame-rame,
juga pasti nabrak.
Babak mendayung akhirnya beneran dimulai—
setelah kami kalah duluan
sama beton.

Muhammad Haadi Nur Haq (Acil)
Lahir di Jakarta, 12 Desember 1990. Besar di keluarga sederhana tapi selalu rame sama canda, cerita, dan suara tawa yang kadang kedengeran sampai ke rumah tetangga. Dari kecil, Acil punya kebiasaan aneh—suka memperhatiin hal-hal kecil yang sering dilewatin orang lain. Entah itu suara sandal jepit di pagi hari, dialog random orang di warung, atau momen lucu yang kejadian tanpa sengaja.
Sekarang, kebiasaan kecil itu jadi bahan tulisan. Acil nulis dengan gaya yang ringan, hangat, dan kadang bikin senyum tipis karena “waduh… ini gue banget.” Sesekali dia selipin kejenakaan biar ceritanya gak terlalu serius—pokoknya tulisan yang gampang dinikmati sambil rebahan atau lagi nunggu kereta lewat.
