Dari Nilam ke Dunia: Kolaborasi Global Dorong Banda Aceh Jadi Kota Parfum
4 mins read

Dari Nilam ke Dunia: Kolaborasi Global Dorong Banda Aceh Jadi Kota Parfum

đŸ‘ïž 1 views

VakansiInfo, Jakarta – Aroma khas nilam telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Aceh. Tumbuh di perbukitan, dirawat oleh tangan-tangan petani lokal, lalu diolah menjadi minyak atsiri berkualitas tinggi—nilam bukan sekadar komoditas, tapi warisan yang menyimpan potensi besar.

Kini, dari Banda Aceh, langkah baru dimulai untuk membawa potensi itu ke level yang lebih tinggi.

Melalui penandatanganan Nota Kesepakatan antara International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Kota Banda Aceh pada 23 April 2026, sebuah kolaborasi strategis resmi dibentuk. Tujuannya jelas: memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus mewujudkan ambisi besar menjadikan Banda Aceh sebagai Kota Parfum berbasis nilam.

Potensi Besar yang Selama Ini Tersembunyi

Aceh dikenal sebagai salah satu penghasil minyak nilam terbaik di dunia. Kualitasnya bahkan menjadi standar dalam industri parfum global. Namun, di balik reputasi tersebut, banyak pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan.

Akses terhadap pembiayaan yang terbatas, pasar yang belum optimal, hingga minimnya pemanfaatan teknologi digital menjadi hambatan utama yang membuat potensi besar ini belum sepenuhnya berkembang.

Di sinilah kolaborasi hadir sebagai jawaban.

ILO, melalui proyek Promise II Impact yang didukung Pemerintah Swiss, membawa pendekatan berbasis rantai nilai. Artinya, bukan hanya produksi yang diperkuat, tetapi seluruh ekosistem—dari hulu hingga hilir—dibangun agar lebih kokoh dan berkelanjutan.

Kolaborasi yang Menyatukan Banyak Kekuatan

Kerja sama ini tidak hanya melibatkan pemerintah dan organisasi internasional. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga  Wamen Ekraf Dorong Festival Jamu Nusantara 2026 Jadi Gerakan Nasional Kreatif

Pemerintah daerah, pelaku UMKM, akademisi, hingga sektor swasta dilibatkan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Tujuannya sederhana, namun berdampak besar: memastikan bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Program ini berfokus pada tiga hal utama:

  • Peningkatan kapasitas UMKM, melalui pelatihan kewirausahaan, manajemen bisnis, hingga pengembangan produk
  • Pengembangan produk turunan nilam, agar memiliki nilai tambah lebih tinggi dan daya saing global
  • Perluasan akses pasar, baik di dalam negeri maupun internasional

Dengan pendekatan ini, UMKM tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung.

Kota Parfum: Mimpi yang Mulai Dibangun

Bagi Illiza Sa’aduddin Djamal, kolaborasi ini bukan sekadar program pembangunan ekonomi. Ini adalah langkah nyata menuju visi besar.

“Banda Aceh memiliki semua bahan untuk menjadi kota parfum berkelas dunia. Kolaborasi ini membantu kami membangun ekosistem yang tepat untuk mewujudkannya.”

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme bahwa Banda Aceh tidak hanya akan dikenal sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan produksi parfum.

Artinya, nilai tambah tidak lagi berhenti di tingkat produksi, tetapi berkembang hingga ke industri kreatif yang lebih luas.

Membangun Ekosistem yang Inklusif dan Berkelanjutan

Sementara itu, Simrin Singh menekankan pentingnya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi juga bersifat inklusif.

“Kolaborasi ini memastikan UMKM memiliki akses yang lebih baik terhadap pembiayaan, pasar, dan peningkatan kapasitas.”

Menurutnya, pembangunan ekosistem tidak hanya soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan.

Baca Juga  Wamen Ekraf Tekankan Peran Perempuan dalam Penggerak Ekonomi Nasional

Pendekatan ini menjadi penting, terutama di tengah perubahan ekonomi global yang semakin dinamis. UMKM dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang.

Dari Akar Lokal Menuju Dampak Global

Nilam adalah contoh nyata bagaimana potensi lokal bisa memiliki dampak global. Dari ladang sederhana di Aceh, minyak nilam bisa menjadi bagian dari parfum mewah di berbagai belahan dunia.

Namun kini, harapannya lebih besar.

Bukan hanya menjadi pemasok bahan baku, Banda Aceh ingin naik kelas—menjadi pusat inovasi, produksi, dan distribusi produk berbasis nilam.

Langkah ini tentu tidak mudah. Dibutuhkan kolaborasi, konsistensi, dan komitmen jangka panjang.

Namun dengan dukungan ILO dan berbagai pemangku kepentingan, jalan menuju tujuan tersebut kini semakin terbuka.

Masa Depan yang Mulai Terbentuk

Kolaborasi antara International Labour Organization dan Pemerintah Kota Banda Aceh menjadi bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang terarah.

Bagi para pelaku UMKM, ini adalah peluang untuk berkembang.
Bagi kota, ini adalah langkah menuju identitas baru.
Dan bagi Indonesia, ini adalah contoh bagaimana potensi lokal bisa diangkat menjadi kekuatan global.

Di tengah aroma khas nilam yang menguar, ada harapan yang ikut tumbuh.

Bahwa dari Banda Aceh, sebuah cerita baru sedang ditulis—
tentang ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu bersaing di panggung dunia. (Mur)

About The Author