
Dari Passion Jadi Cuan: Cara Perempuan Kreatif Bangun Bisnis Versi Bank Saqu
VakansiInfo, Jakarta – Banyak perempuan memulai segalanya dari hal sederhana. Dari menggambar di sela waktu luang, meracik kopi dari dapur rumah, hingga mengubah pengalaman hidup menjadi karya yang bermakna. Namun hari ini, cerita-cerita itu tidak lagi berhenti sebagai hobi. Mereka tumbuh menjadi usaha, bahkan menjadi sumber penghidupan.
Fenomena inilah yang kini semakin terlihat di Indonesia—ketika perempuan tidak hanya hadir sebagai pelaku di industri kreatif, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi yang nyata.
Melihat perubahan ini, Bank Saqu ikut mengambil peran. Dalam forum bertajuk “Built by Her: Turning Passion Into Power in The Creative Industry”, Bank Saqu mengajak publik melihat lebih dalam perjalanan perempuan dalam membangun usaha—bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang bagaimana mereka bertahan, berkembang, dan mengelola keuangan.
Ketika Passion Bertemu Realita
Di balik karya yang indah, ada proses yang tidak selalu mudah.
Liya Tsabitah, seorang ilustrator sekaligus pemilik CabeArt, memahami betul perjalanan itu. Ia memulai dari apa yang ia sukai, tetapi seiring waktu menyadari bahwa kreativitas saja tidak cukup.
Ada fase di mana ia harus belajar memahami arus kas, memisahkan uang pribadi dan bisnis, hingga berani mengambil keputusan finansial yang tidak selalu nyaman.
“Awalnya hanya ingin berkarya, tapi ternyata untuk bertahan, kita harus paham keuangan juga,” kira-kira begitu gambaran perjalanan yang ia lalui.
Cerita Liya bukan satu-satunya. Banyak perempuan kreatif mengalami hal serupa—memulai dengan passion, lalu dipaksa belajar menjadi pebisnis.
Bisnis Kreatif Bukan Sekadar Ide, Tapi Soal Bertahan
Hal ini juga diamini oleh Sylvia, yang telah lebih dulu membangun bisnis di industri F&B.
Menurutnya, banyak bisnis kreatif lahir dari ide yang kuat. Tapi yang membuatnya bertahan bukan hanya kreativitas, melainkan disiplin dalam mengelola keuangan.
Tanpa fondasi finansial yang sehat, bisnis mudah goyah—terlebih di tengah persaingan dan perubahan tren yang cepat.
Karena itu, memahami biaya, mengatur arus kas, hingga mengambil keputusan berbasis data menjadi kunci penting agar bisnis tidak hanya “hidup”, tetapi juga tumbuh.
Perempuan, Kreativitas, dan Kemandirian Ekonomi
Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa sekitar 64,5% pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan perubahan besar—bahwa perempuan kini memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi.
Didukung teknologi digital, banyak dari mereka mampu membangun usaha secara fleksibel. Dari rumah, dari ruang kecil, bahkan dari perangkat sederhana.
Namun di balik peluang besar itu, tantangan juga hadir—terutama dalam hal pengelolaan keuangan.
Di sinilah peran edukasi menjadi penting.
Lebih dari Sekadar Layanan Bank
Bagi Bank Saqu, mendampingi perempuan di industri kreatif bukan hanya soal menyediakan layanan perbankan.
Melalui program seperti Solopreneur Academy, mereka mencoba menghadirkan ruang belajar sekaligus jejaring bagi pelaku usaha. Tujuannya sederhana, tapi krusial: membantu para kreator memahami sisi bisnis dari apa yang mereka bangun.
Mulai dari kebiasaan menabung, pengelolaan keuangan, hingga akses pembiayaan, semuanya dirancang agar pelaku usaha bisa tumbuh lebih terarah.
Pendekatan ini terasa relevan, terutama ketika melihat bahwa sekitar 40% nasabah Bank Saqu adalah solopreneur—mereka yang membangun usaha secara mandiri, sering kali dari nol.
Perjalanan yang Masih Panjang
Perjalanan perempuan di industri kreatif tidak berhenti saat usaha mulai berjalan.
Justru, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga agar usaha tersebut tetap bertahan, berkembang, dan mampu bersaing dalam jangka panjang.
Di titik inilah kombinasi antara kreativitas dan pengelolaan finansial menjadi semakin penting.
Karena pada akhirnya, di balik setiap karya yang lahir, ada cerita tentang keberanian, proses belajar, dan usaha untuk terus tumbuh.
Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari perubahan yang sedang terjadi hari ini—ketika perempuan tidak hanya berkarya, tetapi juga berdaya. (Sam)



