
Batik Bogor Tradisiku Tampil Memukau di HJB ke-544, Angkat Identitas dan Budaya Kota Hujan
VakansiInfo, Bogor – Nuansa budaya yang kental berpadu dengan sentuhan elegan mewarnai rangkaian awal peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang berlangsung pada 3 Juni 2026. Dalam momentum istimewa tersebut, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama Ketua Dekranasda Kota Bogor Yantie Rachim serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tampil serasi mengenakan busana bermotif Rereng Kujang karya Batik Bogor Tradisiku.
Busana khas tersebut tidak hanya dikenakan pada peringatan hari jadi, tetapi juga akan kembali digunakan pada puncak helaran HJB ke-544 yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Juni 2026 mendatang.
Pemilihan motif Rereng Kujang dilakukan secara khusus oleh Ketua Dekranasda Kota Bogor, Yantie Rachim. Motif tersebut dinilai sangat relevan dengan tema HJB tahun ini, yakni “Bogor Nanjeur”, yang menggambarkan semangat kebangkitan, kemajuan, dan kejayaan Kota Bogor.
Motif Rereng Kujang terinspirasi dari Kujang, senjata tradisional masyarakat Sunda yang juga menjadi ikon Kota Bogor melalui keberadaan Tugu Kujang. Dalam filosofi budaya Sunda, kujang melambangkan kekuatan, keberanian, ketangguhan, serta kepemimpinan yang mampu melindungi dan mengayomi masyarakat.
Sementara itu, unsur “rereng” yang ditampilkan melalui pola garis miring memiliki makna perjalanan hidup yang dinamis, terus bergerak maju, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Perpaduan kedua unsur tersebut menjadikan motif Rereng Kujang sebagai representasi yang kuat terhadap semangat pembangunan Kota Bogor saat ini.
Manajer Operasional Batik Bogor Tradisiku, Lisha, menjelaskan bahwa seluruh pakaian dinas dan bendo yang dikenakan para pimpinan daerah pada peringatan HJB tahun ini diproduksi secara khusus melalui proses pengerjaan tangan untuk menjaga kualitas dan keistimewaan hasil akhirnya.
“Spesial untuk menyambut Hari Jadi Kota Bogor tahun ini, kami memproduksi mahakarya batik tiga warna dengan melalui dua kali proses perebusan atau lorod untuk menghasilkan warna yang lebih sempurna. Seluruh proses pengerjaannya memakan waktu sekitar dua minggu,” ujar Lisha.
Batik Bogor Tradisiku sendiri merupakan pelopor produsen batik khas Bogor yang didirikan oleh pasangan Siswaya dan Ruqoyah. Selama bertahun-tahun, rumah produksi ini konsisten menghadirkan motif-motif yang mengangkat identitas, sejarah, budaya, hingga kekayaan alam Kota Bogor ke dalam karya wastra yang bernilai tinggi.
Melalui penggunaan Batik Rereng Kujang dalam perayaan HJB ke-544, Pemerintah Kota Bogor kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung dan mempromosikan produk-produk UMKM lokal. Langkah ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi para pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi sekaligus menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Perayaan HJB ke-544 bukan hanya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang Kota Bogor, tetapi juga menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa budaya lokal dan produk UMKM dapat tampil membanggakan sebagai identitas kota yang terus bergerak maju menuju masa depan. (Mur)



