Ketika 6.000 Anak Tidak Sekolah dan 1.100 Guru Masih Dibutuhkan
5 mins read

Ketika 6.000 Anak Tidak Sekolah dan 1.100 Guru Masih Dibutuhkan

Opini | Tatang Suherman

VakansiInfo, Jakarta – Persoalan pendidikan di Kota Bogor hari ini tidak cukup dibaca melalui angka-angka statistik. Di balik sekitar 6.000 anak yang tercatat tidak sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan, terdapat ribuan masa depan yang sedang berhadapan dengan persoalan akses, ekonomi, lingkungan sosial, hingga keberlanjutan pendidikan.

Sebagai kader HMI Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan Cabang Kota Bogor, saya melihat persoalan ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Kita tentu perlu mengapresiasi berbagai upaya Pemerintah Kota Bogor dalam menekan angka anak tidak sekolah. Namun, apresiasi tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis. Justru angka tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama: mengapa masih ada ribuan anak yang belum memperoleh pendidikan secara berkelanjutan di tengah pembangunan Kota Bogor?

Jika salah satu penyebabnya adalah persoalan ekonomi, maka pendekatan kebijakan tidak boleh berhenti pada ajakan kepada anak untuk kembali bersekolah. Pemerintah perlu memastikan keluarga yang rentan secara ekonomi mendapatkan intervensi yang mampu menghilangkan hambatan pendidikan.

Jika persoalannya adalah jarak dan akses, maka kebijakan transportasi serta pemerataan satuan pendidikan harus menjadi bagian dari solusi.

Sementara jika persoalannya adalah rendahnya minat belajar, kita perlu bertanya lebih jauh: apakah anak yang harus disalahkan, atau jangan-jangan ekosistem pendidikan kita belum cukup mampu menjadikan sekolah sebagai ruang yang menarik, aman, relevan, dan memberikan harapan bagi masa depan mereka?

Kekurangan 1.100 Guru Juga Harus Menjadi Perhatian

Persoalan lain yang tidak kalah serius adalah kebutuhan sekitar 1.100 tenaga pendidik pada jenjang TK, SD, dan SMP.

Kita tidak bisa berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan apabila kebutuhan dasar tenaga pendidik belum sepenuhnya teratasi. Guru bukan sekadar angka dalam formasi kepegawaian. Guru adalah aktor utama yang berhadapan langsung dengan peserta didik dan menentukan kualitas proses pembelajaran di ruang kelas.

Baca Juga  Tatang Suherman Soroti Pendidikan Kota Bogor, 6.000 Anak Tak Sekolah dan 1.100 Guru Masih Dibutuhkan

Karena itu, persoalan anak tidak sekolah dan kekurangan guru sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.

Bagaimana kita ingin mempertahankan anak di sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan apabila pada saat yang sama sekolah masih menghadapi persoalan kekurangan tenaga pendidik?

Di sinilah pemerintah perlu melihat persoalan pendidikan secara lebih utuh. Pendidikan bukan sekadar soal membangun ruang kelas atau mengejar capaian angka partisipasi. Pendidikan adalah ekosistem yang membutuhkan anak, keluarga, guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk bergerak bersama.

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Program, tetapi Ekosistem

Menurut saya, Pemerintah Kota Bogor perlu membangun kebijakan pendidikan yang berbasis data, pencegahan, dan intervensi langsung.

Pertama, perlu ada pemetaan anak tidak sekolah hingga tingkat kelurahan, bukan hanya mengetahui jumlahnya secara agregat. Pemerintah perlu mengetahui siapa mereka, di mana mereka berada, mengapa mereka tidak sekolah, serta intervensi apa yang paling tepat.

Kedua, perlu dibangun sistem deteksi dini bagi anak yang berpotensi meninggalkan sekolah. Anak yang mulai sering absen, mengalami persoalan ekonomi, kehilangan motivasi belajar, atau menghadapi persoalan keluarga harus dapat teridentifikasi sebelum benar-benar keluar dari sistem pendidikan.

Ketiga, persoalan kekurangan guru harus ditangani melalui perencanaan kebutuhan tenaga pendidik berbasis data. Pemerintah perlu memastikan distribusi guru tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga pemerataan berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah.

Keempat, pendidikan kesetaraan dan jalur kembali ke sekolah harus diperkuat. Anak yang pernah putus sekolah bukanlah anak yang gagal. Sistem pendidikan harus memastikan selalu tersedia jalan bagi mereka untuk kembali belajar dan melanjutkan masa depan.

Kelima, pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, komunitas pendidikan, serta masyarakat.

Baca Juga  Tatang Suherman Soroti Pendidikan Kota Bogor, 6.000 Anak Tak Sekolah dan 1.100 Guru Masih Dibutuhkan

Persoalan sekitar 6.000 anak tidak sekolah terlalu besar apabila hanya dibebankan kepada sekolah dan Dinas Pendidikan.

HMI: Kritis, tetapi Tetap Menawarkan Jalan Keluar

Sebagai kader HMI, kami meyakini mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap persoalan sosial. HMI harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu membaca persoalan sekaligus menawarkan gagasan.

Kami tidak ingin membangun kritik yang hanya menghasilkan kegaduhan. Kami ingin kritik yang melahirkan perbaikan.

Karena itu, kami memandang Pemerintah Kota Bogor sebagai mitra strategis sekaligus objek kontrol sosial dalam pembangunan pendidikan. Kebijakan yang baik tentu patut didukung, sementara persoalan yang belum terselesaikan harus terus dikritisi secara objektif.

6.000 anak tidak sekolah bukan sekadar angka. Begitu pula 1.100 kebutuhan guru bukan sekadar persoalan formasi. Keduanya merupakan alarm bahwa pembangunan pendidikan Kota Bogor masih membutuhkan kerja yang lebih serius, terukur, dan berkelanjutan.

Kita tidak boleh hanya bertanya, “Berapa angka anak tidak sekolah yang berhasil diturunkan?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Berapa banyak anak yang berhasil kita selamatkan masa depannya, dan apakah setiap anak di Kota Bogor benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan?”

Bagi kami, keberhasilan pembangunan pendidikan bukan ketika pemerintah mampu menunjukkan angka yang baik. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi anak yang harus meninggalkan sekolah karena kemiskinan, keterbatasan akses, kurangnya dukungan, maupun kegagalan sistem dalam menjangkaunya.

HMI Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan Cabang Kota Bogor akan terus mengambil peran dalam mengawal, mengkaji, dan memberikan gagasan terhadap berbagai persoalan pendidikan di Kota Bogor.

Tatang Suherman
Ketua Umum HMI Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan Cabang Kota Bogor (Ckr03)

About The Author