500 Wanita Meriahkan Tari Keroncong Nusantara di Kota Tua Jakarta, Keroncong Didorong Mendunia
4 mins read

500 Wanita Meriahkan Tari Keroncong Nusantara di Kota Tua Jakarta, Keroncong Didorong Mendunia

VakansiInfo, Jakarta – Sebanyak 500 wanita memeriahkan pergelaran Tari Keroncong Nusantara di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, Selasa (15/9/2026). Kegiatan yang digelar Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) ini menjadi momentum untuk memperkenalkan musik keroncong melalui seni tari sekaligus mendorongnya semakin dikenal masyarakat dan generasi muda.

Ratusan peserta tampil bersama membawakan Tari Keroncong Nusantara dalam suasana meriah. Pergelaran tersebut menunjukkan bahwa keroncong tidak hanya dapat dinikmati melalui musik, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas seni yang melibatkan masyarakat secara luas.

Tari Keroncong Nusantara merupakan kolaborasi karya musik “Irama Senja (Tari Keroncong Nusantara)” ciptaan Ketua LINI Rudy Octave dengan gerak dasar tari garapan para seniman dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI), yakni Gita Novia Sofyan, Agustina Rochyanti, Aty Widyawaty, Atien Kisam, dan Wahyuni Hazierda Dauly.

Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya diva keroncong Indonesia Sundari Soekotjo yang memberikan surprise performance. Sundari tampil membawakan lagu Tari Keroncong Nusantara yang mengiringi penampilan 500 penari.

Sundari mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia berharap momentum ini dapat membuat keroncong semakin dikenal dan dilestarikan generasi muda.

“Acara hari ini luar biasa. Saya senang melihat antusiasme masyarakat terhadap seni dan budaya bangsa, khususnya musik keroncong. Mudah-mudahan semangat seperti ini terus berkembang sehingga keroncong semakin dikenal dan dilestarikan generasi muda,” ujar Sundari.

Baca Juga  Raffles Christian School Rayakan 20 Tahun Perjalanan Inspiratif dengan Rekor MURI dan Pertunjukan Budaya

Ia juga mengajak generasi muda untuk mengenal dan mempelajari keroncong sebagai bagian dari seni budaya Indonesia.

“Kita harus bangga memiliki seni budaya Indonesia. Saya berharap generasi muda tidak hanya mengenal keroncong, tetapi juga mau belajar dan melestarikannya,” katanya.

Candra Darusman Turut Hadir

Musisi sekaligus Pembina Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI), Candra Darusman, turut hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Candra mengaku bangga dapat menyaksikan langsung pergelaran yang melibatkan lebih dari 500 orang tersebut. Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menghidupkan kembali seni tradisi di ruang publik.

“Saya senang dan bangga bisa hadir di acara luar biasa ini. Mari kita sama-sama menghargai seni tradisi budaya Indonesia. Hari ini, lebih dari 500 orang berkumpul dan menari dalam irama keroncong. Ini menjadi semangat yang luar biasa untuk terus menghidupkan keroncong,” ujar Candra.

Keroncong dari Kota Tua Menuju Dunia

Pemilihan Kota Tua Jakarta sebagai lokasi kegiatan turut memberikan nuansa historis. Kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara warisan sejarah dan ekspresi seni budaya yang terus berkembang.

Ketua ASETI Agustina Rochyanti menilai keroncong perlu diberi ruang untuk berkembang dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

“Keroncong bukan lagi irama yang hanya bisa didengar dan menjadi latar, tetapi kini dapat ditarikan, dirayakan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” ungkap Agustina.

Baca Juga  Sawala Dasa Wacana #11 Angkat Citra Perempuan Sunda, Dorong Generasi Muda Raih Cita dan Jaga Budaya

LINI menargetkan gerakan Tari Keroncong Nusantara dapat berkembang lebih luas, termasuk melalui media sosial dan menjadi salah satu bentuk tari pergaulan di masyarakat. Dalam jangka panjang, keroncong diharapkan mampu dikenal secara global sebagai salah satu identitas budaya Indonesia.

Ketua LINI Rudy Octave menegaskan bahwa pelestarian keroncong membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas budaya dan tari, kelompok masyarakat, hingga generasi muda.

“Dibutuhkan kolaborasi mulai dari pemerintah, komunitas budaya, komunitas tari, komunitas lansia, hingga generasi muda seperti para pelajar SMA dan SMK, untuk memastikan irama keroncong terus bergema,” jelas Rudy.

Pergelaran ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesia Raya, LPDP, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta jajaran terkait. Kegiatan juga melibatkan berbagai komunitas dan institusi pendidikan, termasuk kelompok lansia, penyintas kanker, sekolah luar biasa, SMA, SMK, dan masyarakat umum.

Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadi gambaran bahwa keroncong dapat menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Dari Kota Tua Jakarta, irama keroncong kembali dihidupkan melalui gerak, kebersamaan, dan partisipasi masyarakat.

Pergelaran 500 penari ini sekaligus menjadi upaya membawa keroncong tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai seni yang terus hidup, berkembang, dan berpeluang menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia di panggung global. (Mur)

About The Author