Briefing Imajinasi Robot Gedeg: Misi Rahasia ke Salabintana (Part 1)
5 mins read

Briefing Imajinasi Robot Gedeg: Misi Rahasia ke Salabintana (Part 1)

👁️ 0 views
“Saat imajinasi bocah lima tahun lebih terorganisir daripada rencana perusahaan.”

VakansiInfo – Beberapa minggu setelah misi survei TK itu, hidup kami balik ke ritme normal—versi normal keluarga kami yang… sebenernya nggak pernah beneran normal.

Di mata gue, keluarga kami ini kayak kru ekspedisi aneh yang lebih absurd dari “Jejak Si Gundul” di TransTV. Bedanya, ekspedisi kami nggak punya sponsor, banyak salah paham, dan wajib ada satu anggota inti: Robot Gedeg—alias gue sendiri.

Ayah gue, si insinyur bodoh favorit keluarga, otomatis jadi kapten kapal. Sering bawa peta ke mana-mana, tapi kadang terlihat kayak nggak yakin juga dia lagi menuju ke mana. Emak? Navigator sejati. Kompasnya bukan alat—lebih ke insting dan satu sandaran tangan yang bisa mendarat ke kepala gue kalau gue mulai nyasar di “alam liar ruang tamu.”
Kak Ucrit jadi polisi rumah. Tugasnya ngamanin kekacauan yang gue ciptain, terutama kalo gue lari-lari sambil bawa sendok yang gue percaya sebagai tongkat sihir ekspedisi.

Dan gue? Ya… bocah lima tahun berkepala karton yang jalannya miring dan sok punya misi penyelamatan dunia.

Ruang tamu kami bukan ruang tamu sinetron, tapi hangatnya tuh kayak pelukan raksasa. Sofa beludru coklat yang udah agak kempes sering gue panjat kayak bukit kecil. Meja kayu berlapis taplak seadanya jadi pos komando, dan dinding putih jadi layar bioskop segala imajinasi gue. Tapi pelukan raksasa itu kadang kelewat erat—karena kaki gue sering kesangkut di sela sofa.

Dalam hati, gue sering misuh kecil:
“Kenapa gue harus perang terus sama sofa? Apa ini ujian dari semesta untuk balita jalan miring?”

Malam itu, Ayah pulang kerja. Kostum bapak-bapak sejatinya masih lengkap: kemeja kusut, celana Levis belel, wajah capek khas pekerja kantoran yang nyaris nyerah tapi tetap hidup karena gaji.

Dia duduk di meja ruang tamu kayak kapten kapal yang baru nemuin pulau baru. Dari tasnya keluar selembar kertas transparan—blueprint arsitek katanya. Terus penggaris besi panjang, dan tangannya mulai bikin garis-garis misterius.

Baca Juga  Menuju Salabintana: Perang Dingin Bocah KW vs Baju Gatel - (Part 3)

Gue melongo. Buat gue, itu bukan sekadar gambar.
Di kepala bocah lima tahun, Ayah kayak lagi nyusun cetak biru robot raksasa yang bisa bikin rumah kami terbang.

Gue ikut sok-sokan bantu, ngelus blueprint sambil ngoceh, “Wooo… raksasa… uh-oh!”
Kak Ucrit pura-pura baca buku, tapi matanya nyolong melirik, siap negur kalau gue megang alat berat skala balita.
Emak duduk nonton TV, tapi senyum kecilnya nunjukin dia menikmati kekacauan hangat ala keluarga kami.

Tiba-tiba Ayah berhenti. Bolpoinnya menggantung di udara. Matanya nyala kayak nemu peta harta karun.

“Oh iya, Sayang, gue udah ngomong apa belum ya?”
“Ngomong apa, Karna?” suara Emak datar tapi kupingnya udah siaga.
“Oh, berarti gue belum ngasih tau ya…”
“Ya jelas belum, ngomong aja belum.”

Ayah narik napas dramatis kayak presenter acara wisata yang hobinya ngasih teaser kelamaan.

“Besok lusa, perusahaan gue mau ngadain gathering ke… Salabintana.”

Hening.
Sendok di tangan gue berhenti gerak. Polisinya alias Kak Ucrit juga freeze.

Otak gue langsung ngebul, ngebayangin:
Salabintana itu apaan, anjir?
Planet asing? Markas robot raksasa? Tempat kepala karton level dewa?

Dalam kepala gue, gathering itu langsung berubah jadi misi nasional. Kami sekeluarga masuk hutan pinus, pohonnya bisa ngomong dan ngetawain gaya jalan miring gue. Kolam renangnya punya air warna biru-ke-oli kayak vitamin gosong yang sering dipaksa masuk ke mulut gue.
Ayah jadi kapten astronot, Emak bawa kompas ajaib yang muter sendiri, Kak Ucrit jadi satpam resort, dan gue jadi mercusuar kecil dengan kepala karton nyala neon.

Di puncak gathering versi imajinasi gue, ada lomba paling gila:
siapa yang bisa jalan paling miring tanpa kecebur kolam oli-jeruk.
Dalam hati gue yakin… gue punya peluang besar. Meskipun ya, kemungkinan ngompol tetap tinggi.

“Tempat apa tuh, Karna?” akhirnya Emak nanya juga.
“Ini bukan sembarang tempat, Sayang.” Ayah mulai sotoy.
“Salabintana itu resort keren di Sukabumi. Udaranya sejuk, pohonnya tinggi. Kemarin gue survei bareng si Nico. Dijamin seru.”

Gue dan Kak Ucrit saling melongo. Ini kayak nonton trailer film tanpa ngerti genre-nya.

Ayah lanjut, “Lu siapin barang-barang buat anak-anak besok lusa ya. Termasuk buat gue juga.”
Lalu dia berhenti, senyum jail.

“Oh iya… jangan lupa siapin baju anget buat si doyan ngompol—Robot Gedeg ini.”

Tawa langsung pecah.
Emak geleng-geleng. Kak Ucrit ngakak sambil nuduh gue pake tatapan “nah lo!”.
Gue cuma bisa senyum ngenes di balik kepala karton sambil mikir:

Baca Juga  Uji Coba Robot Gedeg dan Oli Rasa Jeruk

“Yaelah, Yah… aib bocah diumbar gitu aja. Nanti gue gede, gue tulis nih, beneran.”

Malam itu gue susah tidur.
Bayangan Salabintana muter terus kayak trailer film yang nggak mau selesai. Gue ngebayangin masuk hutan sejuk, jalan miring tanpa celaka, jadi astronot kecil, bahkan nemu tombol rahasia yang bisa nge-reset dunia.

TV di ruang tamu masih nyala, sinetron lebay jadi soundtrack tidur gue. Bayangan kepala karton gue di dinding keliatan kayak alien mini yang lagi menunggu aba-aba misi.

Dan di tengah absurditas itu, gue ngerasa satu hal sederhana:
Ekspedisi keluarga kami baru aja dimulai.

Sepuluh Ribu, Hanamichi, dan Jiwa yang Nyangkut di Besi Perlintasan Muhammad Haadi Nur Haq (Acil) 1

Muhammad Haadi Nur Haq (Acil)

Lahir di Jakarta, 12 Desember 1990. Tumbuh di keluarga sederhana namun berkecukupan, rumahnya selalu di penuhi canda dan tawa. Sejak kecil, Acil suka mengamati dunia dari sudutnya sendiri, mencatat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Kini, ia menulis untuk menghadirkan cerita yang hangat, penuh humor, dan mudah di nikmati pembaca. Sesekali dengan sentuhan kejenakaan yang bikin senyum tipis atau setidaknya mengangguk sambil bilang, “Iya, gue ngerti nih.

About The Author